
Hanum membiarkan tubuhnya berada di dalam dekapan Dio karena Dio tidak memeluknya erat seperti tadi. Entah mengapa ia merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan suaminya yang terasa menenangkan.
"Tidurlah jangan terus memikirkan aku." Ucap Dio dengan mata terpejam.
Hanum yang merasa ketahuan tengah memikirkan suaminya pun hanya diam seolah tidak mendengar perkataan Dio. Melihat istrinya yang hanya diam saja membuat Dio tersenyum tipis.
Siang itu, sebelum menikmati makan siang bersama, sepasang pengantin itu memilih mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing dengan tidur di dalam kamar sambil berpelukan. Mereka seolah tidak memperdulikan rasa lapar di dalam perut masing-masing karena rasa kantuk mereka lebih mendominasi.
Sedangkan Bu Tias dan Yani yang sudah selesai menyiapkan makan siang dibuat bingung kenapa Hanum dan Dio belum turun juga padahal waktu sudah lewat dari jam makan siang.
"Ibu, apa tidak sebaiknya aku panggilkan saja mereka ke kamar?" Tanya Yani yang sudah tidak sabar melihat wajah Dio kembali.
"Tidak perlu. Biarkan saja Tuan Dio dan Nona Hanum turun sendiri. Sepertinya merek masih istirahat." Jawab Bu Tias.
Jawaban Bu Tias tentu saja tak sesuai dengan yang Yani harapkan. Padahal ia sudah gatal ingin melihat Dio namun ibunya seperti tidak mendukung keinginannya.
Satu jam berlalu menunggu Hanum dan Dio turun namun tak kunjung menunjukkan batang hidung masing-masing, akhirnya Bu Tias meminta Yani untuk menutup hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
__ADS_1
"Sepertinya Tuan Dio dan Nona Hanum masih lama. Lebih baik sekarang kita pergi mengerjakan pekerjaan lain." Ajak Bu Tias.
Yani menurut saja dengan wajah sebalnya karena sudah lama menunggu Dio turun. Sedangankan Hanum dan Dio yang ditunggu untuk makan siang masih saja nyaman tidur sambil berpelukan.
Setengah jam berlalu, akhirnya Hanum terjaga lebih dulu karena merasakan lapar pada perutnya.
Kruk
Perut Hanum berbunyi meminta makan. Hanum pun memberanikan diri membangunkan suaminya yang masih tertidur agar bisa terlepas dari pelukan suaminya.
"Ada apa?" Tanya Dio dengan suara parau hingga membuat Hanum terpesona karena menurutnya Dio sangat tampan dengan wajah baru bangun tidur dan suara khas baru bangun tidurnya.
Rasa kantuk Dio hilang begitu saja mendengarkan istrinya yang sedang lapar. Ditatapnya jam yang menggantung di dinding kamar sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Astaga... kita sudah terlalu lama melewatkan jam makan siang." Ucapnya.
Hanum mengangguk mengiyakannya lalu meminta Dio melepaskan tubuhnya. Dio menurut saja lalu mereka pun turun dari atas ranjang.
__ADS_1
"Aku akan mencuci wajah lebih dulu." Ucap Hanum.
Dio mengangguk mengiyakannya dan memilih duduk di atas sofa sambil menunggu Hanum.
Ting
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Dio. Dio beranjak dari atas sofa dan melangkah ke arah nakas untuk mengambil ponselnya.
"Calista?" Gumamnya membaca pesan masuk dari kekasihnya.
Dio hanya membaca pesan dari Calista dari luar lalu menutup ponselnya kembali. Ia merasa tidak berminat membalas pesan dari kekasihnya yang sangat sibuk itu.
Dio pun berpikir tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya dan Hanum tadi malam. "Apa sudah saatnya aku melepaskannya? Bersama dua orang wanita hanya akan membuat hidupku menjadi rumit dan akan membuat salah satu di antara mereka tersakiti nantinya." Ucap Dio sambil menatap lurus ke depan.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗