
"Papa?" Pada saat pintu apartemen baru saja ia buka, Hanum dibuat terkejut melihat sosok ayahnya kini sedang berdiri tepat di hadadapannya.
"Hanum..." suara Papa Irfan terdengar merindu pun dengan tatapan matanya.
Hanum memundurkan tubuhnya dengan wajah yang masih nampak terkejut.
"Hanum..." Papa Irfan tak mengerjar langkah putrinya dan tetap berdiri di posisinya. Ia menghargai sikap putrinya saat ini yang tidak mau dekat dengannya.
Dio yang sejak tadi tidak melihat siapakah yang datang ke apartemennya pun sontak bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu masuk apartemen.
"Tuan Irfan?" Dio menatap Papa Irfan dengan datar.
Hanum pun sontak menatap pada suaminya saat mendengar suara suaminya itu.
Dio semakin melangkah maju hingga kini ia berdiri tepat di hadapan Papa Irfan. Tidak terlihat ekspresi keterkejutan di wajahnya karena Dio sebelumnya Dio sudah menebak jika mertuanya itu akan datang ke apartemennya untuk menemui istrinya.
__ADS_1
"Tuan Irfan, ada apa anda datang kemari?" Dio bertanya berpura-pura tidak tahu.
"Sayang datang karena—" Perkataan Papa Irfan terputus karena Dio memotongnya.
"Tidak enak sekali berbicara di sini. Ayo silahkan masuk dulu." Ajak Dio.
Papa Irfan terkejut mendengar ajakan Dio. Sedangkan Hanum merasa tidak setuju jika suaminya mempersilahkan ayahnya itu untuk masuk karena ia belum siap berhadapan dengan ayah yang sudah membuangnya itu.
"Terima kasih." Papa Irfan tentu saja tidak ingin membuang kesempatan emas yang datang kepadanya. Ia dengan cepat mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam apartemen menuju ruang tamu diikuti Dio dan Hanum di belakangnya.
Mengetahui jika pembicaraan mereka akan menjerumus ke hal serius, Dio pun meminta Divan untuk masuk ke dalam kamarnya. Untung saja Divan adalah anak yang penurut dan tidak banyak tanya hingga Divan langsung saja pergi meninggalkan ruang tamu setelah menyempatkan bersalaman dengan Papa Irfan.
"Maaf, tujuan saya datang ke sini karena saya ingin menemui putri saya, Hanum." Jawabnya tanpa ragu.
"Apa? Menemui putri anda?" Ulang Dio menekan kata putri.
__ADS_1
Hanum memalingkan wajah saat pandangan Papanya tertuju kepadanya. Setelah lebih lima tahun lamanya barulah ayahnya itu mau mengakuinya lagi sebagai putrinya.
Papa Irfan mengangguk mengiyakannya. "Hanum adalah putri saya. Anak kandung saya." Jawab Papa Irfan dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca. Dapat Dio lihat jika mertuanya itu sedang menahan sedih saat ini.
Dio tak menunjukkan ekspresi terkejut saat Papa Irfan menyatakan istrinya adalah anak kandungnya. Dio justru menatap pada Hanum melihat perubahan ekspresi wajah istrinya tersebut.
"Hanum..." panggil Dio agar Hanum yang tengah memalingkan wajah menatap kepadanya.
"Untuk apa Papa datang ke sini mencari Hanum? Apa Papa ingin mengulang pernyataan Papa jika Hanum bukan lagi bagian dari keluarga Papa?" Tanya Hanum dengan bibir bergetar. Sampai saat ini luka itu masih sangat membekas di hatinya dan mendominasi hingga membuat rasa rindu yang ia rasakan hilang begitu saja saat mengingatnya.
"Tidak, tidak begitu, Nak..." suara Papa Irfan terdengar melemah. Tak berbeda dengan Hanum, dirinya pun turut merasakan sakit saat mengingat perkataannya dulu pada putrinya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗