
Hanum menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan pembicaraannya dengan Dio. "Kemarin sore seorang pegawai sorum datang memberikan motor kepadaku. Dia bilang jika motor itu pemberian dari dirimu. Benarkah begitu?" Tanya Hanum.
Dio menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
Melihat itu membuat Hanum kembali melanjutkan perkataannya. "Untuk apa kau membelikan motor untukku?" Tanya Hanum tanpa basa-basi lebih jauh.
"Anggap saja itu adalah nafkah lahir dariku untukmu." Jawab Dio.
Kening Hanum dibuat mengkerut mendengarnya. "Maksudmu? Nafkah lahir?" Ulang Hanum.
"Ya. Anggap saja itu adalah nafkah lahir dariku untukmu pergi bekerja. Kau jangan besar kepala. Aku memberikan itu selain untuk nafkah lahir juga untuk menutup mulut orang-orang." Jawab Dio.
Hanum terdiam dan meresapi maksud perkataan Dio.
"Walau banyak orang yang belum mengetahui status kita saat ini tapi aku ingin menjaga-jaga agar di saat orang-orang tanu kau adalah istriku mereka tidak akan memburukkan namaku karena membiarkanmu pergi bekerja hanya dengan menggunakan bus."
Hanum menoleh menatap wajah Dio yang kini sedang menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Bisa kau bayangkan apa kata orang sosok pria seperti diriku membiarkan istrinya pergi menggunakan bus sedangkan diriku pergi menggunakan mobil mewah."
Deg
Dugaan Hanum ternyata benar jika Dio membelikan motor untuknya hanya untuk menjaga gengsinya sebagai suami yang kaya raya.
"Sudahlah. Aku rasa kau sudah mengerti." Ucap Dio kemudian.
Hanum menganggukkan kepalanya. Walau hatinya merasa sakit mengetahui kenyataan maksud dan tujuan Dio memberikan motor untuknya namun Hanum tetap akan menerima motor pemberian dari Dio.
"Tidak perlu repot-repot. Motor saja sudah cukup. Lagi pula aku tidak pernah bermimpi memiliki sebuah mobil." Jawab Hanum.
Dio tersenyum miring. Entah mengapa ia menganggap Hanum adalah wanita munafik saat ini. "Terserah kau saja. Kau bebas melakukan apa yang kau inginkan asal kau bisa menjaga nama baikku." Tekan Dio.
"Tidak perlu repot mengingatkanku karena aku pasti akan menjaga nama baikmu." Jawab Hanum datar.
Dio menggeram dalam hati. Entah mengapa ia menganggap Hanum adalah lawannya saat ini karena wanita itu selalu saja bersikap tenang tanpa merasa tersinggung dengan perkataannya. Hanum bukanlah istri pada umumnya seperti sinetron yang sering Mamanya tonton. Wanita yang bersikap lemah dan menerima apa saja perlakukan dari suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih atas pemberian darimu. Aku akan menggunakan motor itu dengan sebaik-baiknya." Lanjut Hanum kemudian.
Dio menganggukkan kepalanya. Ia pun teringat untul memberikan sesuatu kepada Hanum. "Ini adalah nafkah lahir selanjutnya untukmu. Kau bebas menggunakan kartu ini untuk semua kebutuhanmu dan Divan." Ucap Dio sambil menyerahkan kartu bewarn gold pada Hanum.
Hanum tak langsung menerimanya justru menatap kartu itu cukup lama. Dio pun masih mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kartu itu pada Hanum.
"Terima kasih." Ucap Hanum setelah mengambil kartu di tangan Dio. Ya, Hanum memilih mengambil kartu yang Dio berikan untuk menghargai pemberian pria itu. Walau pun sudah menerimanya tapi Hanum sama sekali tidak berniat untuk memakainya. Selagi ia masih bisa menggunakan tenaga dan otaknya untuk bekerja, ia akan menggunakan hasil pencahariannya sendiri untuk menghidupi dirinya dan Divan.
Ck. Dia tidak ada bedanya dengan wanita lainnya yang akan tergiur jika diberikan uang. Ucap Dio dalam hati.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1