
Dan di sinilah Calista dan Hanum berada keesokan harinya. Di sebuah taman yang nampak ramai dengan para pengunjung yang di dominasi oleh anak-anak di sore hari.
"Perkenalkan, aku Calista." Ucap Calista memperkenalkan diri kembali.
Hanun menyambut tangan wanita itu dengan senyuman manis terkembang di pipinya. "Hanum." Jawabnya.
Calista ikut tersenyum. Wanita itu pun mendaratkan bokong di atas kursi taman yang saling berhadapan dan diikuti oleh Hanum setelahnya.
"Apa kau nyaman jika kita berbicara di sini?" Tanya Calista sebelum menyampaikan tujuannya mengajak Hanum bertemu.
Hanum menganggukkan kepalanya. "Suasana di sini cukup nyaman walau terdengar sedikit kebisingan suara anak-anak. Tapi itu bagus karena aku tidak merasa tegang saat ini." Jawab Hanum jujur.
Calista tersenyum mendengarnya. Ia pikir Hanum akan memberikan kata protes kepadanya karena mengajaknya bertemu di taman bukan di cafe.
Calista menatap intens wajah wanita yang duduk berhadapan dengannya saat ini. Wanita yang tengah tersenyum kepadanya saat ini terlihat seperti wanita yang baik dan manis. Wanita di depannya saat ini juga bukanlah orang yang bertindak terburu-buru. Ia menghargai dirinya yang belum menyebutkan tujuan mengajaknya untuk bertemu.
__ADS_1
"Maaf jika aku sudah menyita waktumu sore ini." Ucap Calista berniat memulai percakapan.
"Tak masalah. Aku juga sedang tidak sibuk sore ini." Jawab Hanum.
Calista mengangguk lalu menghela nafas. Ia mencoba mengontrol dirinya agar tidak terbawa perasaan dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini.
"Hanum, kau pasti sudah mengetahui siapa aku untuk suamimu sebelumnya bukan?" Tanya Calista.
Hanum menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia mengetahui siapa Calista. "Kau adalah wanita yang sempat sangat dicintai dan diperjuangkan oleh suamiku." Jawab Hanum seraya menyematkan senyum. Tidak terlihat di wajah Hanum jika wanita itu tengah emosi saat mengatakannya.
Deg
Hanum tertegun mendengarkan perkataan Calista tentang suaminya yang mencintainya. Bagaimana tidak, satu tahun menikah sampai saat ini ia tidak pernah mendengar Dio mengatakan cinta kepadanya. Dan kali ini Calista mengucapkan dengan yakin jika Dio mencintainya. Sungguh aneh bukan, pikirnya.
Melihat Hanum yang hanya diam saja belum menanggapi perkataannya membuat Calista melanjutkan perkataannya. "Hanum, tujuanku mengajakmu bertemu saat ini bukanlah untuk meminta mengembalikan Dio kepadaku. Aku hanya ingin menitipkan Dio kepadamu yang aku yakini adalah wanita yang sangat pantas untuk Dio. Aku minta kepadamu, Hanum. Jangan pernah meragukan cinta Dio kepadamu. Dia adalah pria yang tulus dan tidak akan pernah menduakanmu. Bahagiakan dia dan sayangi dia, Hanum." Pinta Calista dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kenapa kau meminta seperti itu?" Tanya Hanum.
"Karena aku tahu takdirku saat ini. Aku bukanlah jodoh Dio dan kaulah wanita yang sudah ditakdirkan untuk Dio. Aku sudah belajar mengikhlaskan Dio untukmu. Aku akan ikut bahagia jika dia bahagia bersamamu." Jawab Calista.
"Apa kau tidak mau mencoba bersama dengannya kembali?" tanya Hanum.
Calista menggeleng. "Semua sudah terlambat. Dio sudah menemukanmu dan kau adalah wanita yang saat ini diinginkannya bukan lagi diriku." Jawab Calista.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1