
Malam itu Hanum dan Dio tidur saling berpelukan hingga mentari pagi sudah bersinar menyinari bumi. Hanum yang merasa nyaman tidur di dalam pelukan suaminya sampai tidak sadar jika hari sudah pagi jika saja Dio tidak membangunkannya.
"Aku kesiangan!" Ucap Hanum dengan wajah yang nampak terkejut.
"Hei, tenanglah Sayang." Ucap Dio menenangkan Hanum.
"Aku belum membuatkan sarapan untukmu dan Divan." Hanum gelagapan.
"Jangan panik seperti itu. Kita bisa sarapan makanan yang ada saja." Jawab Dio.
"Makanan apa?" Tanya Hanum bingung.
"Makanan yang masih tersisa dari cafeku tadi malam. Kau ingat bukan jika makanan tadi malam masih banyak tersisa dan aku sudah menyimpannya di dalam lemari." Jawab Dio.
"Apa tidak masalah?" Tanya Hanum. Ia merasa tidak enak tidak memasak sarapan pagi untuk suaminya itu.
"Tentu saja tidak masalah. Sekarang ayo kita mandi." Ajak Dio.
"Baiklah, aku akan mandi lebih dulu." Ucap Hanum dan berniat turun dari atas ranjang.
Pergerakan Hanum pun seketika berhenti saat Dio mencekal lengannya. "Kau belum menyebutkan selamat pagi sayang untukku." Bisik Dio di telinga Hanum.
__ADS_1
Wajah Hanum seketika merona mendengar perkataan suaminya tersebut.
"Ayo katakan selamat pagi untukku." Pinta Dio.
Hanum yang tidak ingin terlalu lama mengulur waktu atau Dio akan terus menggodanya pun akhirnya mengucapkan hal yang diminta suaminya itu.
"Selamat pagi, Sayang." Ucap Hanum yang berhasil membuat Dio berbunga-bunga dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungil istri cantiknya.
Hanum yang mendapatkan kecupan tiba-tiba dari Dio dibuat semakin senang dan wajahnya memerah. Tak ingin Dio melihat rona di wajahnya, Hanum pun segera berjalan cepat ke arah kamar mandi.
Melihat sikap lucu istrinya itu membuat Dio semakin merasa gemas saja pada istrinya tersebut.
"Andai saja kau sedang tidak hamil muda aku tidak akan segan memakanmu pagi ini." Gumam Dio sambil menatap punggung istrinya.
*
"Om Digo sudah datang menjemput Divan, Pah?" Tanya Divan.
"Sudah. Sekarang Om Digo sedang berada di lobby. Om Digo bilang dia menunggu di sana saja." Jawab Dio.
Divan menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu ayo kita pergi, Pah. Kasian Om Digo menunggu Divan terlalu lama." Ucap Divan.
__ADS_1
Dio mengiyakannya lalu mereka pun beranjak dari meja makan.
"Ayo berangkat." Ajak Dio pada Hanum yang baru saja kembali dari kamarnya.
"Ayo." Jawab Hanum lalu mereka pun keluar dari apartemen.
"Kenapa Digo mau mengantarkan Divan pagi ini? Tumben sekali. Apa dia tidak sekolah hari ini?" Tanya Hanum.
"Entahlah. Katanya dia mau menghabiskan waktu bersama Divan hari ini. Dia juga bilang nanti siang ingin membawa Divan bermain ke rumah Nenek." Jawab Dio.
"Ohh... baiklah. Yang penting Digo bisa menjaga Divan dengan baik." Ucap Hanum dan diangguki Dio sebagai jawaban.
Saat sudah berada di loby apartemen, Dio yang mengira jika Digo hanya datang seorang diri dibuat terkejut melihat Dio datang bersama dengan Richard.
"Apa-apaan ini? Kenapa dia ada di sini?" Tanya Dio dengan wajah sebal.
"Memangnya kenapa jika aku ada di sini? Aku kan juga ingin mengantarkan keponakanku pergi sekolah pagi ini." Jawab Richard dengan wajah tersenyum dan itu terlihat sangat menyebalkan di mata Dio.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗