
"Papah." Divan tersenyum pada Dio yang tengah menatap padanya.
Dio pun mencoba ikut tersenyum membalas senyuman putranya. "Duduklah di sini." Ucap Dio menunjuk sofa di sebelahnya.
Divan mengiyakannya lalu duduk di sebelah Dio.
"Tadi pagi Divan berangkat sekolah dengan Arthur?" Tanya Dio pada Divan.
Divan menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Dio.
"Lalu Mama?" Tanya Dio. Ia merasa penasaran dengan transportasi apa istrinya itu berangkat ke perusahaan Alexander.
"Naik bus, Pa." Jawab Divan seadanya.
Dio terdiam sambil berpikir. Di saat ia berangkat menuju tempat kerjanya menuju mobil mewah, Hanum justru sebaliknya. Sudah dapat Dio bayangkan bagaimana Hanum berangkat bekerja menggunakan bus. Pastilah istrinya itu bersempit-sempitan bersama para pekerja yang lainnya.
__ADS_1
Walau berusaha mengabaikan apa saja yang berhubungan dengan Hanum, tapi Dio ingat dengan tanggung jawabnya saat ini. Ia bukanlah lagi pria lajang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kini ada istri yang membutuhkan tanggung jawabnya walau ia tidak mencintainya.
Saat melihat Hanum berjalan ke arahnya berada, Dio pun beranjak dari duduknya. Ia menatap pada Divan yang kini tengah menatapnya dengan wajah bingung. "Papa ke kamar dulu. Ada pekerjaan yang ingin Papa selesaikan malam ini." Ucap Dio.
"Baik, Pa. Semangat kerjanya ya, Pa." Jawab Dio.
Dio tersenyum tipis lalu mengusap kepala Divan. Setelahnya ia melangkah meninggalkan ruang tamu tanpa berucap sepatah kata pun pada Hanum.
"Apa Divan mau nonton TV?" Tawar Hanum tanpa memperdulikan sikap suaminya.
Sementara Dio yang sudah berada di dalam kamarnya nampak menghubungi seseorang dan meminta orang yang ia hubungi untuk mengirimkan suatu barang ke apartemennya besok sore.
Setelah selesai berbicara, Dio pun menutup panggilan telefonnya. Dilihatnya notifikasi pesan masuk di ponselnya. Itu dari kekasih hatinya. Senyuman manis tentu saja terkembang di wajah Dio setelah membaca pesan masuk dari Calista yang berisi ucapan selamat malam untuknya.
Dio berbinar-binar. Rasanya pesan dari Calista adalah pesan yang sangat dinantikannya dibanding pesan masuk yang lainnya. Dio segera membalas pesan Calista. Karena merasa tak sabar setelah beberapa saat mengirim balasan pesan dan Calista tidak membalasnya, Dio memilih langsung menelefon Calista. Untung saja pada deringan ketiga Calista sudah mengangkatnya hingga Dio tidak perlu menunggu terlalu lama seperti biasanya.
__ADS_1
Hampir satu jam melakukan panggilan telefon dengan Calista, Hanum pun masuk ke dalam kamarnya. Entah apa yang ingin diambil wanita itu ke dalam kamar. Yang jelas saat ini Dio tidak memperdulikannya karena ia sedang sibuk tertawa mendengarkan cerita lucu dari Calista.
Hanum terdiam beberapa saat di posisinya saat mendengar suara tawa yang terdengar renyah dari mulut Dio. Suara tawa itu tidak pernah terdengar saat Dio sedang bersamanya. Sudah dapat Hanum pastikan jika Calista memanglah wanita yang sangat diinginkan Dio hingga Dio dapat tertawa bersamanya.
Entahlah harus bagaimana Hanum bersikap saat ini. Yang jelas tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain diam menerima perlakuan Dio. Sikap suaminya itu saat ini sama saja dengan berselingkuh secara terang-terangan di depannya bukan? Walau pun begitu Hanum mencoba sadar diri jika dirinyalah yang menjadi perusak hubungan Dio dan kekasih hatinya.
Agh, sangat miris sekali.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1