
Benar saja apa yang dikatakan Hanum. Saat mobil milik Dio sampai di rumah Richard bersamaan dengan mobil milik Papa Irfan sampai di depan rumah Richard.
"Wah, Kakek sudah sampai juga itu, Ma." Ucap Divan pada Hanum.
"Iya. Ayo kita keluar." Ajak Hanum.
Divan mengiyakannya. Dio pun segera turun dari dalam mobil membukakan pintu untuk Divan. Sedangkan Hanum membuka pintu untuk dirinya sendiri.
"Papah..." Hanum mengulurkan tangan pada Papa Irfan yang datang menghampirinya.
Papa Irfan menerima uluran tangan anaknya tersebut. "Apa keadaanmu baik-baik saja saat ini, Nak?" Tanya Papa Irfan lembut.
"Baik, Pah. Papah bagaimana?" Tanya Hanum.
"Seperti yang kau lihat. Papa sehat dan sangat bugar." Jawab Papa Irfan.
Hanum merasa senang mendengarnya. Setelah papanya keluar dari rumah sakit waktu itu sejujurnya Hanum masih merasa cemas jika saja penyakit papanya kembali kumat.
"Pah..." Dio pun ikut menyalami Papa Irfan diikuti Divan setelahnya.
Tak berselang lama Digo nampak keluar dari dalam rumah Richard dan meminta mereka untuk masuk ke dalam rumah.
"Jadi Digo benar-benar tinggal di rumah Kak Richard?" Tanya Hanum pelan pada Dio.
__ADS_1
"Ya. Sudah lebih seminggu dia tinggal di sini." Jawab Dio.
Hanum merasa bingung untuk apa adik iparnya itu tinggal di rumah Richard. Walau pun begitu namun Hanum merasa enggan mempertanyakannya pada Dio.
"Om Irfan, Dio, Hanum, Divan." Richard yang baru saja turun dari kamarnya langsung menghampiri mereka dan menyalaminya satu persatu. "Ayo silahkan duduk dulu." Ajak Richard.
Mereka mengiyakannya lalu duduk di sofa yang ada di ruang tengah rumah Richard.
"Bibi..." Richard memanggil pembantunya yang saat ini sedang berada di dapur.
Mendengar dirinya dipanggil oleh pemilik rumah akhirnya Mama Jelita pun beranjak menuju ruang tengah dimana suara Richard berada.
Saat sudah berada di ruang tengah betapa terkejutnya Mama Jelita melihat ada mantan suami dan anak tirinya di sana.
"Bibi, tolong buatkan minum untuk para tamu saya." Pinta Richard pada Mama Jelita yang nampak mematung di tempatnya berdiri.
"Bibi?" Ulang Hanum pelan.
Mama Jelita yang masih merasa terkejut hanya diam hingga Richard kembali mengulang perkataannya.
"Ba-baik, Tuan." Jawab Mama Jelita lalu beranjak pergi dengan terburu-buru.
Pandangan Hanum dan Papa Irfan kini sontak tertuju pada Richard meminta sebuah jawaban.
__ADS_1
"Kenapa Mama tiriku ada di sini? Dan kenapa Kakak memanggilnya dengan sebutan Bibi?" Tanya Hanum yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Karena dia bekerja di rumah ini sebagai pembantuku." Jawab Richard santai.
"Apa?!" Hanum tentu saja terkejut mendengarnya. Pun dengan Papa Irfan.
"Kakak jangan bercanda!" Ucap Hanum tegas.
"Untuk apa aku bercanda, Hanum? Dia memang bekerja di rumahku sebagai pembantu. Dan sudah lebih satu minggu dia bekerja di sini." Jawab Richard.
Hanum menggelengkan kepalanya merasa tak percaya.
Papa Irfan hanya diam berusaha tidak memperdulikan nasib mantan istrinya tersebut.
Pandangan Hanum pun beralih pada Dio yang terlihat memasang wajah biasa saja. "Sayang, apa kau sudah mengetahui ini semua?" Tanya Hanum pada Dio.
Dio mengangguk tanpa ragu. "Kenapa? Apa kau merasa kasihan pada mereka?" Tanya Dio dengan tatapan datarnya pada Hanum.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗