
Richard yang mendengarkannya pun tertawa. "Aku hanya sekedar suka tapi tidak berniat mengambilnya darimu." Jawab Richard.
Dio mendengus. Pandai sekali kakak sepupunya itu membela diri. Dio yang ingin kembali melontarkan perkataan pada Richard mengurungkan niatnya saat mendengar Hanum memanggil mereka untuk makan.
"Awas saja jika kau berani mencari perhatian istriku!" Ucap Dio sebelum mereka bangkit dari sofa.
Richard tertawa saja tak mengiyakan perkataan Dio. Tentu saja hal itu membuat Dio semakin sebal saja pada sepupunya itu.
Saat makan bersama mereka sedang berlangsung, Dio sesekali memperhatikan wajah Richard karena takut pria tersebut mencuri pandang pada istrinya. Entah mengapa setelah mengetahui Richard menggendong Hanum saat itu membuat Dio merasa semakin cemburu dan bersikap kekanak-kanakan jika ada Richard di sekitar mereka.
"Divan belum bangun tidur juga, Kak?" Tanya Digo pada Hanum setelah mereka selesai menghabiskan makanan masing-masing.
"Sepertinya belum. Bibi juga belum ada turun dari kamar Divan. Sepertinya masih menemani Divan tidur." Jawab Hanum.
Digo melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi ia sudah memiliki jadwal lain untuk bertemu dengan teman lamanya dan sudah harus pergi dari apartemen Hanum dan Dio.
"Kalau begitu sampaikan saja salam kami pada Divan ya, Kak. Jika ada waktu bawalah Divan bermain ke rumah Nenek." Pinta Digo.
Hanum menganggukkan kepalanya. "Jika sudah libur Kakak dan Dio akan membawa Divan ke rumah Nenek." Jawab Hanum.
Setelah mendapatkan jawaban dari Hanum, Digo pun berpamitan untuk pulang diikuti oleh Richard.
__ADS_1
"Pulanglah dan jangan kembali lagi ke sini." Ucap Dio ketus pada Richard.
"Dio, kenapa kau berkata seperti itu." Hanum menatap sebal pada suaminya itu.
"Iya, Dio selalu saja bersikap buruk kepadaku." Richard memelaskan muka.
Dio dibuat geram melihatnya. Tak ingin kedua kakanya kembali bertengkar, Digo pun segera membawa Richard pergi dari apartemen Dio dan Hanum.
"Kakak ingin kemana setelah ini?" Tanya Dio setelah mereka berada di parkiran mobil.
"Sepertinya aku langsung pulang saja." Jawab Richard.
"Apa tidak mau kembali lagi ke perusahaan?" Tanya Digo.
Digo mengangguk paham. Setelahnya mereka pun berpisah menuju tujuan mereka masing-masing. Jika Digo pergi menemui temannya Richard justru pulang ke rumahnya.
Saat sedang berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya, tanpa sengaja Richard melihat seorang wanita paruh baya yang tidak asing di matanya kini tengah dikejar-kejar oleh dua orang pria berbaju hitam.
Richard yang merasa penasaran apa yang terjadi pun segera menepikan mobilnya dan keluar dari mobil.
"Tuan tolong saya!" Wanita paruh baya itu meminta tolong pada Richard dengan wajah takut.
__ADS_1
"Lepaskan dia!" Titah salah satu dari dua orang pria tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Richard.
"Dia berhutang kepada kami dan sampai saat ini belum membayarnya!" Bentak pria tersebut.
"Berhutang? Berapa hutangnya kepada kalian?" Tanya Richard.
"Seratus juta dan itu belum termasuk bunganya!" Jawabnya.
Richard kembali menoleh pada wanita paruh baya tersebut. "Apa benar anda memiliki hutang senilai seratus juta pada mereka?" Tanya Richard.
Wanita paruh baya itu mengangguk. "Tapi bukan pada mereka melainkan bos mereka." Jelasnya.
"Mamah!" Mendengar suara wanita yang sangat dikenalinya membuat Richard mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali dan menoleh ke sumber suara.
"Cita." Ucapnya sambil menatap wanita yang sedang berlari ke arahnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗