
Akhirnya hari yang dinantikan oleh Dio namun tidak dinantikan oleh Hanum pun tiba. Pagi itu Dio nampak sudah sangat bersemangat pergi ke bandara bersama dengan Hanum setelah dijemput oleh Digo.
"Divan masih tidur?" Tanya Hanum pada Digo. Pagi ini Hanum memang meminta Digo tidak membawa Divan untuk mengantarkannya ke bandara karena Hanum merasa tidak tega meninggalkan putranya di saat keberangkatannya.
"Iya Kak. Divan masih tidur bersama Mama di kamarnya." Jawab Digo.
Hanum tersenyum tipis mendengarnya membayangkan betapa menggemaskannya putra kecilnya yang saat ini tengah tertidur.
"Katakan padanya jika Kakak pasti akan selalu merindukannya." Ucap Hanum.
"Baik Kak." Jawab Digo.
"Kau ini sudah seperti ingin pergi lama meninggalkan Divan saja. Jelas-jelas kita hanya akan pergi beberapa hari saja." Tegur Dio.
"Ya, walau pun begitu aku merasa waktu beberapa hari itu sangat lama untuk aku dan Divan berjauhan. Sebelumnya aku tidak pernah meninggalkannya dalam waktu lama seperti saat ini." Jawab Hanum.
"Baiklah..." ucap Dio tak ingin memperpanjang percakapan mereka karena hanya akan membuat mood istrinya berubah buruk.
__ADS_1
Dio yang melihat kakaknya mengalah pun tersenyum miring. Karena tidak ingin membuang waktu terlalu lama, Digo pun menambah laju kecepatan mobilnya saat mobilnya melaju di jalanan yang cukup sepi pagi itu.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mobil milik Digo telah sampai di bandara. Digo memilih tidak masuk ke dalam bandara dan langsung pulang karena ada sesuatu hal yang ingin dikerjakannya pagi ini. Hanum dan Dio pun tidak mempermasalahkannya karena menurut mereka sudah diantarkan oleh Digo saja itu sudah cukup untuk mereka.
"Ayo masuk." Ajak Dio pada Hanum yang masih menatap kepergian mobil Digo.
Hanum menganggukkan kepalanya lalu mereka pun masuk ke dalam bandara sambil menarik koper masing-masing.
*
"Aku menyukainya." Jawab Hanum dengan wajah lesu.
"Jika kau menyukainya kenapa kau tidak tersenyum?" Ketus Dio. Ia menatap dalam wajah istrinya yang nampak sangat lelah padahal perjalanan mereka ke Bali tidak memakan waktu sampai tiga jam.
"Karena aku lelah. Jangan banyak bertanya. Lebih baik kita masuk saja." Ajak Hanum.
Walau pun merasa kesal dengan respon istrinya itu namun Dio tetap menuruti permintaan istrinya untuk langsung masuk ke dalam villa. Setidaknya Dio cukup tahu saat ini jika Hanum bukan tidak menyukai tempat penginapan mereka tapi ia hanya merasa jet lag setelah melakukan perjalanan menggunakan pesawat.
__ADS_1
"Dia sungguh lemah." Ucap Dio karena dirinya belum pernah merasakan jet lag setiap melakukan perjalanan menggunakan pesawat.
"Kau bilang apa?" Hanum yang sedikit mendengarkan perkataan Dio pun menoleh pada suaminya itu.
"Tidak ada." Ucap Dio lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Hanum.
Hanum menghela nafasnya lalu mengikuti suaminya dari belakang. Saat sudah masuk ke dalam villa, kedua bola mata Hanum dibuat terbelak melihat fasilitas yang ada di dalam villa terbang sangat mewah untuk dirinya yang sudah biasa hidup sederhana. Hanum tidak menyangka jika Kevin dan Queen memberikan hadiah bulan madu yang tidak tanggung-tanggung untuk dirinya dan Dio.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Dio melihat kedua mata Hanum yang kini berbinar menatap keindahan di dalam villa.
****
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1