
Rasa canggung tengah dirasakan oleh Hanum saat sarapan pagi bersama suami dan anaknya. Walau merasa canggung karena berdekatan dengan Dio, namun Hanum bersusaha untuk tetap tenang dan terlihat baik-baik saja. Dio pun turut bersikap demikian. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun selain ekspresi datar di wajahnya. Divan yang tidak mengerti apa-apa pun hanya diam sambil menikmati makanan sarapan paginya.
"Pagi ini Papa akan mengantarkan Divan pergi sekolah." Ucap Dio pada Divan.
"Tapi Om sopir pasti sudah menunggu di bawah itu, Pah." Jawab Divan.
"Divan tenang saja. Papa sudah menghubungi sopir agar tidak mengantar Divan pergi sekolah pagi ini. Nanti pulanh sekolah baru Om sopir yang menjemput Divan." Jawab Dio.
Divan menganggukkan kepalanya. Merasa paham dengan apa yang Dio katakan.
Dio pun mengalihkan pandangan pada Hanum yang tengah sibuk membereskan piring bekas makanan mereka. "Apa kau ingin pergi diantarkan olehku juga?" Tawar Dio.
Hanum dengan cepat menggeleng. "Terima kasih tawarannya tapi aku ingin naik motor saja." Tolak Hanum.
Dio menganggukkan kepalanya lalu mendorong kursinya. "Papa tunggu di ruang tamu." Ucap Dio pada Divan lalu bangkit dari duduknya.
Divan mengangguk mengiyakannya.
__ADS_1
"Divan, ayo cepat susul Papah." Tutur Hanum lembut pada Divan.
"Baik, Mah." Jawab Divan menurut lalu turun dari kursinya.
Hanum tersenyum melihat sikap putranya itu. Hanum pun segera membereskan pekerjaannya lalu menyusul Divan dan Dio yang hendak pergi.
"Mamah tidak mau diantar Papa saja?" Tanya Divan saat mereka tengah berjalan ke arah lift.
"Tidak. Mama naik motor saja agar cepat sampai di perusahaan." Jawab Hanum.
"Baiklah..." jawab Divan dan tak lagi banyak tanya.
Setelah berada di depan gedung apartemen, Hanum melihat kepergian anak dan suaminya lebih dulu baru menyusul mengendarai motornya menuju perusahaan Alexander. Selama berada di dalam perjalanan menuju perusahaan, Hanum terus dibuat berpikir bagaimana bisa ia tadi malam tidur sedekat itu dengan Dio bahkan kini sudah dapat merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh suaminya itu.
"Hanum... kenapa kau ceroboh sekali? Untung saja dia tidak memakimu karena kau sudah bersikap di luar batas." Rutuk Hanum pada dirinya sendiri.
Saat motor berhenti di perempatan lampu merah, pandangan Hanum tiba-tiba tertuju pada mobil yang baru melintas di depannya. Hanum sangat mengenali mobil itu. Itu adalah mobil milik Kakak tirinya yang biasanya Cita pakai untuk bekerja.
__ADS_1
"Ternyata dia masih tinggal bersama Mama dan Papa." Ucap Hanum karena Cita baru saja keluar dari jalan menuju arah rumahnya.
Hanum berusaha mengatur hatinya agar tidak merasa bersedih karena kini jalannya pergi dan pulang sudah berbeda di kota ini.
"Sungguh miris sekali. Aku adalah anak kandung Papa tapi jutsru aku yang terbuang." Gumam Hanum.
Motor milik Hanum pun kembali melaju kembali saat rambu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau.
Beberapa menit telah berlalu, akhirnya Hanum pun telah tiba di perusahaan Alexander. Saat sudah berada di dalam ruangan kerjanya, Hanum tersenyum menatap Sally yang ternyata sudah datang lebih dulu darinya.
"Hanum, apa kau sudah mendengar jika mulai besok pagi Mbak Kiki sudah tidak lagi menjadi atasan di Tim Humas?" Tanya Sally.
"Kenapa Mbak Kiki berhenti? Lalu siapa yang akan menggantikannya?" Tanya Hanum.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗