
Keempat pria tampan itu terus bekerja merapikan bukti-bukti yang mereka dapatkan hingga akhirnya selesai di pukul delapan malam. Senyum manis terkembang di wajah tampan mereka masing-masing setelah menyelesaikan pekerjaan mereka dengan maksimal.
"Terima kasih." Ucap Dio seraya menatap ketiga sahabat.
"Perkataan apa itu? Kami tidak membutuhkan kata terima kasih." Sahut Marvel.
"Marvel benar. Tidak ada kata terima kasih untuk membantu sahabat karena itu adalah kewajiban." Timpal Daniel.
Kevin mengangguk mengiyakannya.
"Baiklah." Dio mengalah. Ia lupa jika ia juga pernah mengatakan hal yang sama pada sahabat-sahabatnya saat mengalami hal yang sama dengannya. "Kalau begitu ayo kita makan. Aku tahu cacing di perut kalian sudah memberontak meminta diisi dan hati kalian sudah meminta untuk pulang."
"Ayo." Jawab Daniel, Marvel dan Kevin nyaris bersamaan. Mereka pun melangkah ke arah sofa berada dan menikmati makan malam bersama di sana.
Dua puluh menit berlalu, mereka nampak sudah selesai menghabiskan makanan masing-masing. Dio melirik jam di pergelangan tangannya sudah hampir menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Sepertinya kita sudah bisa pulang. Anak dan istri kita pasti sudah menunggu kita di rumah." Ajak Dio pada ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita pulang. Tapi ingat besok kau harus melaporkan hasilnya pada kami." Jawab Marvel.
"Kau tenang saja. Aku akan mengirimkan bukti-bukti itu ke rumah mertuaku saat ia pulang bekerja." Jawab Dio.
"Oke. Ayo kita pulang." Ucap Marvel lalu bangkit dari duduknya.
Dio mempersilahkan ketiga sahabatnya keluar lebih dulu karena ia ingin menunggu orang suruhannya membersihkan bekas sisa makanan mereka dan membersihkan kembali ruangan kerjanya.
"Kau sudah boleh pulang. Ini tip untukmu." Ucap Dio memberikan beberapa lembar uang bewarna merah setelah pekerjaan pengawalnya selesai.
Dio mengangguk lalu keluar dari dalam ruangan kerjanya. Ia melangkah dengan hati yang senang karena semua bukti sudah terkumpul dan siap diberikan pada mertuanya.
"Aku harap mertuaku tidak terkena serangan jantung setelah mengetahui kebenarannya." Ucap Dio tersenyum miring. Sampai saat ini Dio masih dibuat tak habis pikir kenapa mertuanya memilih memungut batu kerikil dan membuang batu berlian.
*
Dio sampai di apartemen miliknya saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Suasana di dalam apartemen nampak gelap saat ia baru masuk ke dalam apartemen. Dihidupkannya lampu apartemen agar dapat melihat jalan di depannya lalu ia pun melangkah ke arah tangga menuju ke kamarnya berada.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Dio menyempatkan lebih dulu masuk ke dalam kamar Divan. Ditatapnya wajah Divan yang nampak damai dalam tidurnya. Ada rasa bersalah yang kini Dio rasakan karena akhir-akhir ini sering mengabaikan putranya.
"Maafkan Papa. Setelah ini Papa berjanji tidak akan sering pulang malam lagi." Ucap Dio. Dikecupnya pipi Divan dan diletakkannya hadiah yang ia janjikan untuk Divan di atas nakas. Setelahnya Dio keluar dari dalam kamar Divan menuju kamarnya berada.
Ceklek
Mendengar suara pintu kamar terbuka membuat Hanum yang sedang memoleskan krim malam di wajanya menoleh ke sumber suara.
"Dio... kau sudah pulang?" Tanya Hanum menatap pada Dio. Terlihat jelas guratan lelah di wajah suaminya yang tengah melangkah ke arahnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1