
Karena tubuhnya terasa lemah dan dadanya terasa semakin sakit setelah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, akhirnya malam itu Papa Irfan meminta seorang security untuk pergi mengantarkan ibu panti kembali ke panti asuhan. Tak lupa Papa Irfan mengucapkan terima kasih ayas waktu yang telah diberikan wanita itu dan memberikan sebuah amplop berisi uang untuk kebutuhan anak-anak panti.
"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya pamit pulang dulu." Ucapnya.
Papa Irfan mengangguk mengiyakannya. Setelah kepergian pemilik panti, Papa Irfan pun melangkah dengan lunglai menuju kamar Hanum berada. Ya, walau Hanum sudah tak lagi tinggal di rumah itu namun Papa Irfan tidak pernah mengosongkan isi kamar Hanum atau menggantinya dengan yang baru. Kamar putrinya masih sama seperti yang dulu dan barang-barang di dalamnya selalu terawat oleh para pelayan di rumahnya.
"Ha-hanum..." Papa Irfan terisak menatap foto putrinya yang tergantung di dinding kamar. "Maafkan Papa, Hanum. Maafkan Papa. Papa bukanlah ayah yang baik untukmu. Kesibukan Papa selama ini membuat Papa kekurangan waktu untuk bersamamu. Papa bahkan percaya begitu saja dengan cerita bohong yang dikatakan ibu tirimu tentang dirimu." Sesal Papa Irfan.
Begitu banyak penyesalan yang kini dirasakan oleh Papa Irfan. Dari waktunya yang selalu kurang untuk Hanum, membiarkan putrinya hidup mandiri di kota orang dan juga tak memberikan kasih sayang yang utuh untuk Hanum. Kesalahan terbesar yang dilakukan Papa Irfan selanjutnya adalah mengusir Hanum dari rumahnya sendiri dan mencoretnya dari kartu keluarga.
"Papa benar-benar menyesal, Hanum. Papa menyesal telah mencampakkan putri sebaik dirimu." Kini penyesalan tiada guna. Semua telah terjadi. Hanum tak lagi ada di dekatnya bahkan putrinya itu sudah menikah tanpa ia yang menjadi walinya.
Entah bagaimana kehidupannya kedepannya dengan merasakan sebuah penyesalan yang sangat besar. Setelah ini Papa Irfan hanya bisa berharap jika putrinya mau memaafkannya dan mau kembali ke rumah yang seharusnya diwariskan untuk putrinya itu.
__ADS_1
*
"Papah..." di tempat berbeda Hanum memegang dadanya yang terasa sakit setelah tiba-tiba terbayang wajah ayahnya. "Kenapa aku jadi tiba-tiba teringat dengan Papa?" Tanya Hanum sambil meringis.
Hanum pun berjalan ke arah ranjang dan menjatuhkan bokongnya di sana. Diraihnya segelas air yang tersedia di atas nakas lalu meneguknya hingga tandas. Bayangan Papanya pun terus terlintas di benaknya.
"Papah... apa terjadi sesuatu dengan Papa? Kenapa bayangan Papa terus terlintas sejak tadi?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
"Mah..." terdengar suara Divan memanggilnya dari luar pintu.
"Mamah?" Divan berlari ke arah Hanum karena melihat ibunya nampak kesakitan. "Mamah sakit?" Tanya Divan setelah berada di depan Hanum.
"Mamah tidak apa-apa." Hanum mencoba tersenyum. Tak ingin putranya merasa cemas dengan keadaanya saat ini.
__ADS_1
"Mama meringis. Apa dada Mama sakit?" Tanya Divan sambil menatap tangan Hanum yang sedang memegang dada.
"Sudah tidak sakit lagi, Nak." Jawab Hanum berbohong.
Divan tak percaya begitu saja. Jelas saja ia melihat wajah Hanum yang nampak kesakitan. "Divan telfon Papah, ya? Mau bilang kalau Mamah sakit biar Papah pulang!" Ucapnya.
"Tidak. Dada Mama sudah tidak sakit lagi. Serius." Mengacungkan jari telunjuk dan tengah ke wajah Divan agar putranya itu percaya dengan perkataannya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗