
Dua jam sudah Hanum, Dio, Papa Irfan dan Divan berada di rumah milik Richard. Selama berada di rumah milik Richard para pria dewasa lebih banyak bercerita tentang bisnis mereka masing-masing sehingga tidak menyadari jika waktu sudah semakin beranjak naik.
Hanum yang hanya menjadi pendengar cerita para pria di sekitarnya dibuat tak percaya jika Richard ternyata selain anak dari pemilik perusahaan tapi juga memiliki beberapa usaha. Hanum pikir selama ini Richard murni hanya ingin bekerja di perusahaan Alexander karena ingin mengundur waktu untuk memimpin perusahaan keluarganya tapi ternyata tidak demikian.
"Sepertinya istriku sudah lapar. Bagaimana kalau kita makan saja sekarang?" Tawar Dio. Jika pembicaraan mereka terus dilanjutkan Dio jamin tidak akan ada habisnya.
"Oh astaga. Kau benar. Aku sampai melupakan Hanum yang sedang hamil. Baiklah, kalau begitu ayo kita makan." Ajak Richard.
"Tunggu dulu. Aku akan memastikan dulu apakah Bibi sudah selesai menyiapkan makan siang atau belum." Ucap Digo.
Richard mengangguk dan Digo pun langsung berjalan menuju ruang makan untuk melihat apakah Mama Jelita dan Cita sudah selesai menyiapkan makan siang atau belum.
"Apa semuanya sudah selesai?" Tanya Digo setelah sampai di ruang makan.
"Sudah, Tuan." Jawab Mama Jelita.
Digo menganggukkan kepalanya lalu kembali ke ruang tengah untuk memanggil keluarganya untuk makan di ruang makan.
__ADS_1
Mama Jelita dan Cita yang melihat Hanum dan Papa Irfan berjalan ke arah mereka pun menundukkan kepalanya masing-masing karena menahan malu.
"Mama... Cita..." sapa Hanum saat berjalan melewati mereka.
Mama Jelita hanya mengangguk sedangkan Cita diam tak merespon sapaan Hanum.
Dio yang melihat Cita mengabaikan sapaan istrinya dibuat geram namun masih bisa mengontrol emosinya.
"Sayang, ayo makan jangan perdulikan mereka." Ucap Dio pada Hanum yang masih saja mencuri pandang pada Mama Jelita dan Cita.
Mama Jelita dan Cita dengan cepat mengangguk lalu melangkah ke arah dapur dengan terburu-buru.
Apa yang kalian rasakan saat ini belum sebanding dengan apa yang istriku rasakan selama ini. Nikmatilah hari-hari kalian sebagai pembantu sampai kalian mendapatkan pembalasan yang lainnya. Ucap Dio dalam hati.
*
Setelah cukup lama berada di kediaman Richard akhirnya Dio pun mengajak anak dan istrinya untuk kembali ke kediaman mereka. Papa Irfan yang kebetulan tidak memiliki kegiatan apa-apa hari itu pun memilih ikut bersama anak dan menantunya ke rumah mereka.
__ADS_1
"Sayang, kau pasti tahu bukan alasan Mama Jelita dan Kak Cita bekerja sebagai pembantu di rumah Kak Richard?" Tanya Hanum pada Dio saat mereka sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah.
"Tahu atau pun tidak kau tidak perlu tahu alasannya. Kau harus ingat jika kau tidak perlu memperdulikan mereka yang sudah sangat jahat kepadamu." Pesan Dio.
Hanum menghela nafas. Walau pun sudah banyak kejahatan yang dilakukan Mama Jelita dan Cita kepadanya namun tetap saja Hanum merasa prihatin dengan keadaan mereka saat ini.
"Ingat jika kau tidak boleh terlalu banyak pikiran. Kau sedang hamil saat ini." Pesan Dio lagi.
Hanum menganggukkan kepalanya. "Aku tahu. Aku tidak akan memikirkan mereka lagi. Aku hanya ingin fokus kepadamu dan anak-anak kita saja." Jawab Hanum dan membuat Dio senang mendengarnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1