
Karena tidak ingin berdebat dengan sahabat baiknya, Calista pun memutuskan untuk pergi dari cafe milik Dio.
"Rose, percayalah jika aku sudah baik-baik saja." Ucap Calista sambil mengusap lengan Rose.
"Aku tahu. Tapi aku hanya ingin berjaga-jaga agar kau tidak memikirkannya lagi setelah kau melihatnya." Jawab Rose.
Calista mengerti dengan kekhawatiran Rose saat ini. Walau baru beberapa tahun berteman dengan Rose, namun Calista tahu sedikit banyaknya Rose sudah paham bagaimana dirinya.
"Jadi kita ingin makan dimana?" Tanya Calista berniat mengalihkan pembicaraan di antara mereka.
"Di rumah makan padang saja. Sepertinya aku sudah rindu makan di sana." Jawab Rose.
"Baiklah. Aku ikut." Jawab Calista lalu mereka pun masuk ke dalam mobil milik Rose.
*
Dua bulan kemudian.
__ADS_1
Tanpa terasa kini usia kandungan Hanum sudah memasuki usia sembilan bulan dan saat ini Dio dan Hanum sedang menanti kelahiran anak pertama mereka.
Semenjak Dokter mengatakan jika Hanum akan melahirkan dalam waktu hitungan hari, Dio pun meminta Hanum untuk tidak lagi beraktivitas di cafe dan cukup diam di rumah saja.
Sebagai seorang istri Hanum pun menurut dengan perintah suaminya itu. Terlebih ia sudah mulai kesusahan berjalan di usia kandungannya yang sudah beranjak sembilan bulan ini.
Bu Shanty yang mengetahui jika menantunya sudah ingin melahirkan pun memilih mengambil cuti bekerja dan menemani menantunya itu di rumah menantu dan anaknya itu.
"Hanum, apa kau sudah mulai merasakan kontraksi akhir-akhir ini, Nak?" Tanya Bu Shanty lembut pada Hanum.
Hanum menggelengkan kepalanya. "Sepertinya belum, Mah. Hanum tidak merasakan apa-apa. Hanya susah berjalan saja karena kaki Hanum sedikit membengkak." Jawab Hanum.
Hanum menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Terima kasih ya, Ma." Jawab Hanum.
Bu Shanty menganggukkan kepalanya. Selaian Bu Shanty yang sudah tidak sabar menanti kelahiran cucu pertamanya, Papa Irfan pun juga demikian. Pria paruh baya itu selalu menyempatkan waktu untuk datang ke rumah anak dan menantunya setiap harinya untuk memastikan apa putrinya baik-baik saja atau sudah ingin melahirkan.
Hanum yang mendapatkan banyak kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya tentu saja merasa senang. Hanum pun merasa bersyukur karena kini ia sudah dilimpahkan kebahagiaan yang tak terhingga oleh Tuhan.
__ADS_1
Dio yang kini harap-harap cemas menanti kelahiran buah hati mereka pun setiap waktu tidak lupa menanyakan keadaan Hanum pada mamanya karena Hanum akhir-akhir ini jarang membalas pesan darinya.
Bu Shanty yang mengetahui kecemasan putranya pun meminta Dio agar bisa fokus pada pekerjaannya dan bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik sebelum Hanum melahirkan nanti.
"Siapa yang menelefon, Ma?" Tanya Hanum saat ia baru saja kembali dari dalam kamarnya.
"Dio. Dia menanyakan keadaanmu." Jawab Bu Shanty.
Hanum semakin mendekat pada Bu Shanty. "Apa dia bilang jika Hanum tidak mengangkat telefonnya lagi, Ma?" Tanya Hanum.
Bu Shanty mengiyakannya. "Lain kali jangan tinggalkan ponselmu di kamar biar Dio tidak khawatir." Pesan Bu Shanty.
"Baik, Mah." Hanum menurutinya. Melihat suaminya yang begitu mencemaskan dirinya sepertinya setelah ini Hanum harus sering memegang ponselnya agar tidak lagi melewatkan panggilan telefon dari suaminya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗