Istri Figuran

Istri Figuran
Sadarlah Calista


__ADS_3

Hanum dan Dio kini sudah berada di dalam ruangan ICU dimana Calista berada. Tidak berbeda jauh dari yang Dio dan Hanum lihat sebelumnya, masih banyak terdapat alat medis yang menempel di tubuh Calista dan wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari tidur panjangnya.


"Apa kau masih ingin di sini?" Tanya Dio karena dia ingin keluar mengangkat telefonnya dari ponselnya yang terus bergetar sejak tadi.


Hanum menganggukkan kepalanya dan membiarkan Dio keluar dari ruangan ICU. Setelah kepergian Dio, Hanum mendekati Calista dan memegang tangan Calista yang terasa lemah.


"Hai Calista... akhirnya kita bertemu lagi, ya." Ucap Hanum lembut pada Calista yang mungkin sudah bisa mendengarkan perkataannya dari alam bawah sadarnya. "Cal... aku tahu kau adalah wanita yang sangat baik dan kau adalah wanita yang sangat mencintai suamiku hingga kau rela bertaruh nyawa untuknya." Lanjut Hanum.


Hanum menjeda perkataannya cukup lama karena merasakan sesak di dadanya. "Cal... aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau sudah sangat baik mau menolong suamiku. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Entah bagaimana keadaan suamiku kini jika saat itu kau tidak datang untuk menolongnya. Demi menolong suamiku kau rela tertembak hingga keadaanmu kritis seperti saat ini."

__ADS_1


"Cal... dari segala kebesaran hatimu dan pengorbanan dirimu untuk Dio, maafkan aku jika sampai saat ini aku masih bersikap egois karena aku tidak ingin melepaskan suamiku untuk siapa pun termasuk kau yang sudah mengorbankan nyawa untuknya. Maafkan aku jika bersikap egois, Cal. Tapi semua ini aku lakukan karena aku sudah mulai mencintai suamiku dan ada nyawa yang hadir dari ikatan pernikahan kami." Hanum mengusap perutnya dengan sebelah tangannya yang bebas.


"Aku tidak ingin saat ia melihat dunia nanti dia merasakan hal yang sama seperti kakaknya yang tidak bisa merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya. Aku tidak ingin membuatnya terluka karena aku merelakan ayahnya untuk orang yang sudah bertaruh nyawa untuk ayahnya. Maafkan aku jika egois, Cal..." ucap Hanum dengan kedua bola mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku tahu kau adalah wanita yang baik. Aku tahu kau adalah wanita yang diciptakan Tuhan untuk ditakdirkan bersama pria yang baik pula. Tapi pria baik itu bukanlah suamiku. Suatu saat nanti pasti akan datang pria yang benar-benar mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan berdoa untuk itu, Cal."


Hanum menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena merasa pasokan oksigennya sangat berkurang. "Berjuanglah untuk hidup, Cal. Banyak orang yang menunggu kedua kelopak matamu terbuka. Banyak orang yang menyayangimu dan merindukan masa kebersamaanmu bersama mereka. Kau harus tetap hidup dan melanjutkan hidupmu, Cal." Hanum mengeratkan ggenggaman tangannya di tangan Calista sebagai penguat untuk wanita itu.


Hanum tertunduk karena ia sudah tak kuat untuk menahan tangisannya agar tidak keluar. "Sadarlah, Cal... kau harus kembali dan sehat." Ucap Hanum tanpa menatap wajah Calista.

__ADS_1


"Hanum..." suara lembut Dio memanggil namanya membuat Hanum menoleh ke sumber suara.


"Kau menangis?" Tanya Dio sambil mendekati istrinya dan mengusap kepala istrinya.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗


__ADS_2