Istri Figuran

Istri Figuran
Selamat untuk Dio


__ADS_3

"Calon Kakak iparku sangat cantik ya, Ma." Puji Digo saat mereka sudah berada di dalam perjalanan pulang menuju rumah.


"Ya. Dia memang sangat cantik dan juga baik." Jawab Bu Shanty seraya tersenyum.


"Cantik bagaimana? Wanita yang sudah memiliki anak dari pria lain itu tidak ada cantiknya sama sekali." Sindir Dio.


"Dio! Jaga perkataanmu!" Tegur Bu Shanty merasa tak suka mendengar perkataan putranya.


Dio hanya diam sambil memalingkan wajahnya ke samping. Menurutnya saat ini belum tepat berdebat dengan mamanya karena ada Nenek Eno bersama mereka.


"Mamah, apa benar jika Divan itu adalah anak dari Kak Hanum?" Tanya Digo yang sejak tadi merasa sangat penasaran.


Bu Shanty menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Cukup kau tahu jika Divan adalah anak dari Kak Hanum dan jangan bertanya lebih panjang lagi." Ucap Bu Shanty.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" Tanya Digo merasa bingung.


"Sudahlah, Digo. Turuti saja perkataan Mamamu." Ucap Nenek Eno yang sejak tadi hanya diam.


Digo mengangguk saja walau ia merasa sangat bingung saat ini.


Dua puluh menit kurang lebih berlalu, kini Tuan Mahesa dan keluarganya telah tiba di kediaman mereka. Digo yang sejak tadi sudah mengantuk di dalam mobil langsung berpamitan untuk naik ke kamarnya dan Bu Shanty pun turut berpamitan untuk mengantarkan Nenek Eno ke dalam kamarnya.


Kini tinggallah Tuan Mahesa dan Dio di ruang tamu rumah mereka. Dio nampak menatap Tuan Mahesa penuh selidik namun Tuan Mahesa hanya membalas tatapan putranya itu dengan datar.


Tuan Mahesa menghela nafas panjang. "Dia wanita yang terbaik untukmu." Jawab Tuan Mahesa.


Dio mendengus mendengarnya. "Wanita terbaik?" Dio berdecak setelah berbicara. "Masih banyak wanita lajang di dunia ini yang bisa aku nikahi, Pah! Wanita baik bukan hanya dia saja!" Geram Dio.

__ADS_1


"Sudahlah, Mamamu tahu apa yang terbaik untukmu, Dio. Jawab Tuan Mahesa.


Dio hanya bisa menggeram sendiri. "Jika anak itu adalah anak Dio mungkin Dio bisa menerima ibunya menjadi istri Dio. Tapi anak itu bukan anak Dio, Pah, Dio tidak berhak untuk menikahinya." Ucap Dio.


Tuan Mahesa memilih diam tak menanggapi perkataan putranya.


"Papa dan Mama sama saja tidak memikirkan perasaan Dio. Tahu begini lebih baik Dio melajang seumur hidup." Ucap Dio lalu meninggalkan Tuan Mahesa begitu saja.


"Anak itu..." Tuan Mahesa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memilih diam bukan karena tidak tahu siapa jati diri Divan sebenarnya. Tapi ia memilih diam agar mulutnya tidak keceplosan mengatakan jati diri Divan sebenarnya pada Dio.


Beberapa saat berlalu, kini Dio sudah beeada di dalam kamarnya. Ia segera menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya dan menggantinya dengan pakaian tidur. Rasanya saat ini ia hanya ingin tidur saja dan saat bangun nanti ia berharap jika apa yang baru saja dilaluinya hanyalah mimpi.


Pada saat Dio sudah berbaring di atas ranjang dan kini sedang membuka ponselnya yang sejak tadi tidak ia buka, Dio dibuat terkejut melihat isi grup bersama ketiga sahabatnya.

__ADS_1


"Kenapa mereka semua mengucapkan selamat kepadaku?" Tanya Dio merasa heran. "Dari mana mereka bisa tahu jika malam ini aku melamar wanita itu?" Lanjut Dio kemudian setelah membaca sampai ke bawah pesan yang dikirimkan para sahabatnya.


^^^


__ADS_2