
Dio hanya diam dengan kepala tertunduk. Saat ini ia tidak bisa berkata-kata karena fokusnya kini tertuju pada Calista. Walau Dokter sudah menyatakan operasi Calista berjalan dengan lancar, namun tetap saja Dio merasa tidak tenang karena Calista kini kritis dan entah sampai kapan bisa sadar dari masa kritisnya.
Beberapa saat berlalu, Mommy Diora dan Daddy Berto sudah keluar dari ruangan ICU karena mereka tidak diperbolehkan untuk berlama-lama di dalam sana. Melihat Dio masih berada di depan ruangan ICU tak membuat Mommy Diora dan Daddy Berto tersulut emosi.
Mereka tetap menunjukkan wajah bersedihnya tanpa berniat memberikan sapaan atau melontarkan banyak kata pada Dio. "Ayo kita pulang." Ajak Daddy Berto. Sesuai saran dari Dokter, Mommy Diora yang sangat syok dengan keadaan putrinya saat ini diminta banyak istirahat dari rumah agar tidak drop atau terkena serangan jantung.
Mommy Diora hanya diam pertanda ia menyetujui ajakan dari suaminya. Sebelum beranjak meninggalkan Dio dan Marvel, Daddy Berto menatap Marvel dan menganggukkan kepalanya tanda berpamitan.
Marvel membalasan anggukan itu dengan senyuman di wajah tampannya.
"Apa kau ingin masuk melihat keadaannya?" Tawar Marvel setelah kepergian kedua orang tua Calista.
Dio menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan tawaran Marvel. Karena tidak ingin Dio semakin menyalahkan dirinya karena keadaan Calista saat ini, Marvel pun berinisiatif menemani Dio masuk ke dalam ruangan ICU.
__ADS_1
Di dalam ruangan ICU, perasaan bersalah kembali menyeruak di dalam dada Dio melihat wajah pucat Calista dan banyaknya alat medis yang menempel di tubuh Calista. Kedua bola mata Dio sampai berkaca-kaca melihat keadaan mantan kekasihnya itu.
"Maafkan aku. Seharusnya aku yang berada di sini dan bukan kau. Tidak seharusnya kau berkorban sejauh ini hanya untukku." Lirih Dio.
Marvel yang berada di sebelah Dio menepuk pelan pundak sahabatnya. "Semua sudah terjadi." Ucap Marvel pelan.
Dio menganggukkan kepalanya. Karena sudah tak kuasa melihat keadaan Calista saat ini, Dio pun memilih keluar dari ruangan ICU dan meminta Suster yang berjaga di ruangan ICU untuk mengabarinya jika terjadi sesuatu kepada Calista.
"Apa kau tidak ingin pulang? Hanum pasti sudah menunggumu dengan cemas di rumah saat ini." Ucap Daniel pada Dio setelah melihat Dio keluar dari dalam ruangan ICU.
"Aku akan pulang." Jawabnya.
"Baiklah. Kalau begitu kami akan mengangtarkanmu pulang." Jawab Daniel.
__ADS_1
Dio mengangguk saja lalu Marvel menuntun sahabatnya itu keluar dari dalam rumah sakit.
Setibanya di gedung apartemen, Daniel, Marvel dan Kevin tak membiarkan Dio berjalan sendiri menuju unit apartemen miliknya. Mereka bertiga menuntun Dio sampai ke depan apartemen dan baru pulang setelah memastikan Dio bertemu dengan Hanum dan masuk ke dalam apartemen mereka.
"Aku harap semua akan baik-baik saja." Ucap Kevin setelah mereka kembali berada di dalam mobil.
Daniel menganggukkan kepalanya. "Ini sudah takdir dan kita tidak bisa mengubahnya karena semua sudah terjadi. Aku tahu Calista masih sangat mencintai Dio hingga dia mau berkorban nyawa untuk Dio. Tapi bagaimana pun juga Dio tidak bisa berpaling begitu saja hanya karena rasa bersalahnya dan berhutang budinya pada Calista. Keadaan yang terjadi saat ini juga bukan Dio yang meminta." Ucap Daniel.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗