
"Memangnya kenapa jika Zel menuruni sikap Papah, Om?" Tanya Zeline yang merasa bingung dengan perkataan Dio.
Dio yang mendengarkan pertanyaan dari Zeline pun dibuat bingung harus menjawab apa.
"Om Dio kenapa diam?" Tanya Zeline sambil menelengkan kepalanya menatap wajah Dio.
"Tidak apa-apa." Jawab Dio seadanya.
Jawaban dari Dio tentu saja membuat Zeline tidak puas mendengarnya. Ia pun kembali bertanya kenapa jika dirinya nanti menuruni sikap Daniel.
Dio yang semakin bingung harus menjawab apa pun akhirnya bisa bernafas lega saat perhatian Zeline beralih pada Divan dan Arthur yang baru saja masuk ke dalam cafe.
"Adik Divan, adik Arthur." Sapa Zeline ramah sambil memperlihatkan senyuman manis di wajah cantinya.
"Kak Zel?" Ucap Divan dan Arthur nyaris bersamaan.
Zeline yang merasa malu disapa oleh dua pria tampan itu pun menundukkan pandangannya dengan wajah yang sudah merona.
"Bukannya Zel ingin bertemu dengan Arthur dan Divan? Sekarang ayo hampiri mereka." Tutur Dio lembut.
__ADS_1
Zeline mengiyakannya lalu turun dari kursi untuk menghampiri Divan dan Arthur.
Daniel, Dio dan Hanum pun tersenyum melihat Zeline yang kini sedang berdiri di hadapan Divan dan Arthur sambil menyalimi mereka secara bergantian.
"Putrimu itu terkadang centil, terkadang pemalu dan terkadang suka bersikap dewasa seperti itu." Komentar Dio pada Daniel.
Daniel tertawa mendengarnya. "Ya, dia adalah paket komplit. Semenjak ada Zeline di hidupku, hidupku menjadi lebih bewarna." Jawab Daniel.
"Tentu saja. Jika saja Naina tidak bersedia menikah denganmu saat itu mungkin saat ini kau tidak akan sedekat ini dengan Zel." Ucap Dio.
"Ya, begitulah. Aku sangat beruntung bisa memiliki mereka." Jawab Daniel.
Hanum yang hanya menjadi pendengar pun tersenyum. Ternyata perjalanan cinta hingga rumah tangga suaminya dan sahabat-sahabatnya sangatlah rumit dan panjang. Mereka memiliki cerita yang berbeda-beda namun berakhir dengan harapan yang sama yaitu bahagia dengan keluarga kecil mereka.
"Sepertinya aku tidak. Tapi tidak tahu dengan suamimu." Jawab Daniel.
Dio yang ditanya pun langsung menjawab. "Aku akan kembali ke perusahaan sebentar lagi. Nanti sore aku akan datang lagi ke sini untuk menjemputmu dan Divan." Jawab Dio.
Hanum mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu." Ucapnya.
__ADS_1
Selama berada di cafe, Dio dan Daniel menyempatkan waktu kebersamaan mereka membahas tentang bisnis yang sedang mereka rintis saat ini. Hanum yang tidak ikut dalam pembicaraan pun memilih mengawasi anak-anak mereka yang saat ini bermain di samping cafe.
Di saat Dio dan Daniel sedang fokus terlibat dalam pembicaraan bisnis mereka, Calista nampak masuk ke dalam cafe bersama dengan Rose.
"Cal, bukankah itu Dio?" Tanya Rose pada Calista.
Calista mengarahkan pandangan pada Dio dan Daniel yang nampak sedang fokus berbicara.
"Ya, itu Dio." Jawab Calista.
"Apa kau yakin ingin makan di sini jika ada Dio?" Tanya Rose memastikan
"Memangnya kenapa jika ada dia? Apa kau takut aku susah move on jika melihatnya?" Tanya Calista.
Rose mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja. Lebih baik kita makan di tempat lain saja, ya." Ajak Rose. Walau Calista sudah merelakan Dio namun tetap saja Rose tahu jika masih ada perasaan yang tertinggal di hati Calista untuk pria bernama Dio itu.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗