Istri Figuran

Istri Figuran
Kehabisan akal menasehatinya


__ADS_3

"Kalian juga ada di sini?" Tanya Dio dengan tatapan tak percaya.


"Memangnya kenapa? Kau tidak suka?" Ketus Daniel.


"Bukan begitu." Jawab Dio lalu mendengus.


"Sudahlah, lebih baik kau duduk dulu. Kau pasti lelah setelah menyetir dari Bandung sampai ke sini." Ucap Marvel.


Dio mengiyakannya lalu melangkah ke arah sofa. Daniel, Kevin dan Marvel pun menuruti langkah Dio ke arah sofa dan duduk di sana.


"Jadi?" Tanya Daniel sambil menaikkan sebelah alis matanya.


"Apa?" Ketus Dio merasa sebal.


"Jadi bagaimana calon istrimu? Apa dia sangat cantik melebihi Calista?" Tanya Daniel.


"Ck." Dio menatap malas Daniel. "Tidak ada yang melebihi kecantikan Calista di hatiku." Ucapnya.

__ADS_1


"Ck. Ck. Ck." Daniel berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Kau memang sangat cocok untuk diberikan gelar pria bucin." Ucap Daniel.


"Biarkan saja. Aku bucin karena aku mencintainya. Sangat." Jawab Dio.


"Terserah kau saja. Tapi kau harus ingat setelah menikah nanti cintamu cukup kau berikan pada istrimu." Pesan Daniel.


Dio menghembuskan nafas kasar di udara. "Aku tidak berjanji untuk itu." Ucap Dio


"Ayolah, Dio. Jangan membuat dirimu seperti orang yang tidak memiliki pengalaman untuk berumah tangga. Kau bisa mengambil banyak pelajaran dari pernikahan kami." Ucap Marvel malas.


Kevin yang sejak tadi hanya diam pun mengangguk membenarkan perkataan Marvel. "Siapa pun yang menjadi istrimu nanti berarti wanita itulah yang terbaik ditakdirkan Tuhan untuk mendampingimu." Ucap Kevin.


"Terserah kau saja. Jika terjadi sesuatu pada dirimu dan rumah tanggamu nanti itu deritamu sendiri bukan derita kami." Ucap Marvel meresa tak dapat memecahkan bongkahan batu yang sangat keras di hati Dio.


Dio pun menghembuskan nafas kasar di udara lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa pada Calista jika dia bertanya tentang pernikahanku." Ucap Dio merasa gundah.

__ADS_1


"Kau tinggal bilang jika kau benar sudah menikah dan itu terjadi karena dia tidak memberikan kepastian pada dirimu. Menunggu itu tidak enak apa lagi menunggu tanpa kepastian." Ucap Marvel.


Kali ini Dio diam dan merenungi perkataan Marvel yang memang benar adanya. Namun lagi, Dio berusaha menyangkal kebenaran itu.


Daniel, Marvel dan Kevin pun saling pandang dan menghela nafas secara bersamaan. Sepertinya saat ini mereka sudah kehabisan akal untuk menasehati Dio.


Di saat Dio sedang dibuat pusing dengan kedatangan ketiga sahabatnya di apartemennya, Hanum justru terlihat sibuk di perusahaan Mahesa mengerjakan pekerjaannya yang cukup menumpuk.


Di depan pintu ruangan yang terbuka, Tuan Mahesa nampak berdiri di sana menatap Hanum yang terlihat sangat fokus bekerja.


"Mama benar, selain baik dan penyayang, Hanum juga bisa dindalkan. Aku yakin kehadirannya nanti di hidup Dio bisa membuat Dio menjadi pria yang lebih baik lagi." Gumam Tuan Mahesa. Setelah cukup menatap kegiatan Hanum, Tuan Mahesa pun beranjak untuk kembali ke ruangan kerjanya.


"Hanum, apa kau sadar jika sejak tadi Tuan Mahesa memperhatikanmu?" Tanya Dea setelah kepergian Tuan Mahesa.


"Apa? Aku tidak tahu." Ucap Hanum sambil menatap ke arah pintu ruangan kerjanya.


Dea menghela nafasnya sejenak. "Kau terlalu fokus pada pekerjaanmu hingga kau tidak sadar dengan kehadiran Tuan Mahesa." Ucap Dea.

__ADS_1


Hanum hanya diam saja sambil memikirkan untuk apa Tuan Mahesa datang memperhatikan kegiatannya.


***


__ADS_2