
"Papah!" Divan yang melihat kehadiran Dio di rumah Nenek Eno pun semakin tersenyum lebar dan berlari ke arah Dio.
"Anak Papah. Nampak senang sekali." Ucap Dio setelah Divan berada di dekatnya.
Divan menganggukkan kepalanya. "Senang, Pah. Habis main dengan Om Digo. Naik sepeda. Naik skuter juga." Cerita Divan.
Dio tersenyum mendengarnya. Ia ikut merasa senang melihat putranya yang sedang senang saat ini.
"Oh iya, Pah. Oom juga membelikan Divan sepeda baru." Cerita Divan lagi.
"Kau membelikan Divan sepeda?" Tanya Dio pada adiknya.
Digo mengiyakannya. "Divan kan sudah pandai main sepeda. Jadi tidak masalah jika aku membelikannya sepeda baru." Jawab Digo enteng.
Dio mendengus. "Untuk apa kau membelikannya sepeda sekarang? Kau kan tahu kami masih tinggal di apartemen." Ucap Dio.
"Divan bisa memakainya jika dia bermain ke rumah Nenek. Lagi pula sepeda itu aku beli untuk Divan mainkan jika dia bermain ke sini." Jelas Digo.
Dio berohria tanda mengerti maksud dan tujuan adiknya tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Dio teringat dengan perkataan Nenek Eno tentang Digo yang ingin tinggal bersama Richard di rumah Richard.
"Bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu." Pinta Dio.
Digo langsung mengiyakannya. Setelahnya Dio pun meminta Divan untuk duduk bersama Nenek Eno dulu sambil menunggunya kembali.
"Jadi apa yang ingin Kakak tanyakan?" Tanya Digo setelah mereka berada di taman samping rumah.
"Apa benar kau ingin tinggal di rumah Richard?" Tanya Dio tanpa basa-basi.
"Benar. Lusa aku akan menginap di rumah Kak Richard." Jawab Digo apa adanya.
Digo tersenyum miring karena kakaknya itu tahu jika ia memiliki sebuah rencana hingga mau tinggal di rumah Richard.
"Apa Kakak sangat penasaran dengan rencana kami?" Sebelum menjawab Digo memilih menggoda Dio lebih dulu.
Dio mendengus mendengarnya. "Cepat katakan saja jangan banyak mengundur waktu!" Ketus Dio.
"Hahaha, tidak sabaran sekali." Jawab Digo dan ditanggapi dengan tatapan tajam oleh Dio.
__ADS_1
Tak ingin membuat Dio marah dan kesal kepadanya, Digo pun langsung saja membisikkan rencananya dan Richard di telinga Dio.
Mendengar visi dan misi adik bersama sepupunya itu membuat Dio merasa terkejut karena ia tidak menyangka jika Digo dan Richard bisa bersikap cerdik seperti ini.
"Bagus. Lakukan rencana kalian dengan baik. Buat mereka merasakan bagaimana rasanya jadi istriku dulu. Harus mereka tahu jika fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan!" Ucap Dio sambil tersenyum menyeringai. Untuk kali ini ia setuju dengan rencana kedua saudaranya karena ingin membalas sakit yang dirasakan istrinya selama ini akibat ulang dua wanita ular itu.
Digo mengiyakan perkataan kakaknya tersebut. Untuk beberapa hari ke depan sepertinya ia akan merasa senang karena akan bermain-main dengan wanita ular yang dasarnya adalah pemain.
"Kita lihat saja. Apakah setelah ini mereka akan merasakan efek jera atau tidak." Ucap Digo.
Dio mengiyakannya. "Jika istriku tidak mau membalas perbuatan buruk mereka maka kalian bisa membantu membalasnya dengan cara kalian sendiri. Jika dibiarkan begitu saja bisa saja mereka tidak berubah dan berbuat lebih nekat tanpa kita sadari." Ucap Dio dan dibenarkan oleh Digo.
Setelah cukup berbicara satu sama lain, akhirnya mereka pun kembali ke ruang tengah dimana Nenek Eno dan Divan berada.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗