
Richard mengiyakannya. "Kau tenang saja, setelah ini aku akan membawa dua orang pelayan untuk membantu mereka di rumah. Tante Jelita sekarang aku tugaskan hanya membuatkan makanan untukku saja. Masakannya selama ini sangat enak dan pas di lidahku. Jadi aku berpikir menjadikannya juru masak saja di rumahku." Ucap Richard.
"Baguslah kalau begitu. Jika Hanum mendengarnya dia pasti akan senang." Jawab Dio. "Lalu bagaimana dengan Cita? Apa tugasnya selama bekerja di rumahmu?" Tanya Dio kemudian.
"Cita? Dia hanya membantu pekerjaan Mamanya saja. Dia tidak lagi aku suruh untuk membersihkan rumah karena sudah ada pelayan lain yang mengerjakannya." Jawab Richard.
"Oh... baguslah kalau begitu." Ucap Dio.
Richard mengiyakannya. Kedua orang pria yang sudah mulai akur itu pun membicarakan hal lain setelah selesai membahas persoalan Mama Jelita dan Cita.
Setelah cukup lama berbicara dengan Dio, akhirnya Richard pun berpamitan untuk kembali ke perusahaan Alexander untuk bekerja.
Tak berselang lama setelah kepergian Richard, Daniel nampak datang ke cafe milik Dio yang berada dekat dengan perusahaan Alexander dengan membawa Zeline.
"Tadi aku melihat mobil Richard keluar dari cafe milikmu." Ucap Daniel pada Dio.
"Ya, dia baru saja pergi dari sini." Jawab Dio lalu mengalihkan pandangannya pada si centil Zeline.
"Hai Princess Om Dio." Sapa Dio pada Zeline yang nampak masih malu-malu menatap kepadanya.
"Hai Om Dio yang ganteng." Jawab Zeline malu-malu.
Seperti biasa Dio selalu dibuat tertawa mendengar panggilan Zeline kepadanya.
__ADS_1
"Kau sudah bisa berbicara dengan benar sekarang rupanya." Kelakar Dio.
"Maksud Om Dio apa?" Tanya Zeline dengan bibir dibuat mengerucut.
"Biasanya kau memanggil Om dengan sebutan Om Danteng." Kelakar Dio.
"Itu kan saat Zel masih kecil. Sekarang Zel sudah besar dan sudah bisa memanggil dengan benar." Jawab Zeline dengan wajah sebal.
"Memangnya kau merasa sudah besar sekarang?" Dio menggoda keponakannya itu.
"Tentu saja. Umur Zel sudah hampir sembilan tahun. Iya kan Papa?" Tanya Zeline pada Daniel.
Daniel tertawa saja mendengarnya. Dan tentu saja melihat tawa Daniel membuat si kecil Zeline kembali mengercutkan bibirnya merasa sebal.
"Papah..." Zeline yang tidak mau disebut anak kecil karena sudah memiliki adik pun meminta papanya membelanya.
"Iya, putri Papa bukan lagi anak kecil tapi di mata kami putri Papa ini tetap masih kecil walau pun Zel sudah dewasa nanti." Tutur Daniel lembut.
"Hehe..." Zeline tertawa saja antara mengerti maksud Daniel atau tidak.
"Oh ya, dimana istrimu? Kau tidak mengajaknya ke sini?" Tanya Daniel pada Dio.
"Tidak. Hanum sedang fokus bekerja di cafe cabang. Tadi aku ke sini hanya karena sudah berjanji dengan Richard saja." Jawab Dio.
__ADS_1
Daniel mengangguk paham.
"Papah, Zel mau bertemu Tante Hanum, ya." Pinta Zeline.
"Tapi Tante Hanum sedang tidak berada di sini bagaimana Zel bisa bertemu dengannya?" Tanya Daniel.
"Kita pergi ke tempat Tante Hanum saja bersama Om Dio." Jawab Zeline cepat.
"Kau ini... baru sampai di sini sudah mau pergi lagi." Timpal Dio seraya tersenyum.
"Hehe, Zel kan mau bertemu Tante Hanum yang cantik dan baik hati." Jawab Zeline.
"Alah... bilang saja jika kau ingin melihat Divan kan?" Goda Dio yang sudah mengerti kecentilan keponakannya pada pria ganteng.
***
Siapa nih yang dah rindu pada Zel?
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1