Istri Figuran

Istri Figuran
Aku akan menunggumu


__ADS_3

Percakapan Dio dan kekasihnya yang terdengar mesra oleh telinga Hanum hanya dianggap angin lalu oleh Hanum. Hanum berusaha tetap tenang dan menjaga hatinya agar baik-baik saja hingga tak merusak moodnya di pagi hari seperti saat ini. Lagi pula sebelum menikah dengan Dio, Hanum sudah mempersiapkan hati dan mentalnya jika apa yang dialaminya saat ini terjadi.


Terlalu larut dalam obrolannya dengan kekasihnya membuat Dio tidak sadar jika kini mobilnya sudah memasuki kawasan apartemen dimana Hanum tinggal. Dio buru-buru memutus sambungan telefonnya agar Calista tidak terlalu banyak bertanya kemana ia akan pergi saat ini.


"Divan, ayo turun." Ajak Hanum pada Divan.


Divan mengangguk mengiyakannya lalu turun dari dalam mobil dibantu oleh Hanum.


Dio yang masih berada di dalam mobil memilih mengirim pesan pada kekasihnya lebih dulu baru keluar dari dalam mobil dan mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi mobil.


"Ayo." Ajak Hanum pada Dio.


Dio mengangguk saja dan memberi kode agar Hanum melangkah lebih dulu. Mengerti kode yang Dio berikan membuat Hanum segera melangkah sambil memegang tangan mungil putranya.

__ADS_1


"Mamah, apa Papa Dio akan tinggal di apartemen kita hari ini?" Tanya Divan pelan pada Hanum.


Hanum menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Hanya malam ini saja. Besok kita sudah pindah ke ibu kota." Jawab Hanum.


Wajah Divan berubah murung. Ia cukup merasa sedih karena harus pindah ke kota lain di saat ini sudah nyaman bermain bersama teman-temannya di kota ini.


Hanum yang mengerti kesedihan Divan saat ini hanya bisa mengusap kepala putranya. Hanum yakin dengan berjalannya waktu nanti Divan juga akan mendapatkan teman baru yang bisa membuatnya nyaman untuk berteman.


"Apa kau ingin minum?" Tawar Hanum.


Dio menggelengkan kepalanya tanpa bersuara. Melihat respon dari Dio membuat Hanum segera membawa Divan menuju kamarnya.


"Mamah, apa Papa Dio tidak suka Divan dan Mamah? Papah hanya diam saja kalau sedang bersama kita." Ucap Divan merasa sedih.

__ADS_1


"Tidak seperti itu, Nak. Papa Dio hanya sedang capek saja." Jawab Hanum lembut. Walau merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan putranya namun Hanum tak ingin Divan merasa sedih dengan pemikirannya sendiri.


"Kalau tidak capek Papa akan baik pada kita, Mah?" Tanya Divan dengan wajah polosnya.


Hanum menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia pun meminta Divan untuk bermain sambil menunggunya membereskan barang-barang mereka.


Sedangkan di luar kamar Dio terlihat tersenyum merekah mendapatkan balasan pesan dari kekasihnya. Senyuman di wajah Dio pun akhirnya luntur saat mengingat statusnya saat ini.


"Maafkan aku karena telah menduakanmu Calista. Walau saat ini ada wanita lain yang sudah menjadi istriku tapi percayalah jika hatiku tidak akan berpaling darimu. Aku akan menunggumu menyelesaikan studimu dan kembali ke kota ini untuk melanjutkan perjalanan cinta kita ke arah yang lebih bahagia." Ucap Dio sambil mengusap ponselnya yang memperlihatkan foto Calista.


Walau saat ini statusnya sudah berubah menjadi suami Hanum, namun Dio tidak bisa memaksakan hatinya untuk melupakan perasaannya pada Calista. Sampai saat ini hanya Calista yang berhasil memenangkan hatinya dan Dio percaya jika hanya Calista lah yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya nanti.


***

__ADS_1


__ADS_2