
"Mama serius?" Divan menatap wajah Mamanya penuh selidik. "Divan telfon Papah saja, ya? Pakai ponsel apel hadiah dari Papah kemarin?" Tawar Divan. Ia sudah berniat ingin berlari ke dalam kamarnya dan mengambil ponsel pintar berlogo apel digigit itu.
"Tidak perlu, Nak. Mama sungguh tak apa." Jawab Hanum cepat. Ia segera bangkit dari duduknya dan memperlihatkan wajah baik-baik saja.
Divan hanya diam saja karena mamanya tidak menuruti keinginannya yang ingin menelefon ayah sambungnya itu.
"Lebih baik kita makan saja, ya. Sudah waktunya Divan untuk makan." Ajak Hanum.
Divan akhirnya menurut saja. Diraihnya tangan Hanum dan digenggamnya erat. "Kalau Mamah sakit bilang Divan yah. Biar Divan telfon Papa agar Papa pulang." Tawarnya lagi.
"Iya, iya." Hanum mengusap kepala putranya seraya mengembangkan senyum. Setelahnya mereka pun melangkah keluar dari dalam kamar menuju dapur.
Hanum... jangan memikirkan Papa lagi. Ingat jika Papa sudah tidak lagi ingin bertemu denganmu. Kau harus menjaga hatimu agar tak merindukannya. Pesan Hanum untuk dirinya sendiri dalam hati.
*
Di tempat berbeda, Dio nampak sedang bertos ria bersama ketiga sahabatnya. Senyuman penuh kemenangan nampak terbit di wajah mereka masing-masing.
"Rencana yang berhasil!" Ucap Kevin dengan tersenyum miring.
__ADS_1
"Benar. Misi selesai dan mereka sudah diusir dari rumah sesuai dengan prediksi kita!" Sahut Marvel.
"Benar. Dari info yang aku dapatkan wanita itu juga sudah ditalak oleh Tuan Irfan." Ucap Daniel.
"Benarkah?" Dio nampak semakin senang. Tidak sia-sia usahanya dua minggu belakangan ini mencari banyak bukti untuk membuktikan sebuah kebenaran pada mertuanya tentang istrinya.
"Ya, saat ini aku pastikan jika Tuan Irfan pasti sangat menyesal." Jawab Marvel.
"Tentu saja menyesal. Dia sudah membuang bongkahan berlian demi batu kerikil." Sahut Daniel.
Keempat pria itu pun tertawa bersamaan. Malam ini mereka benar-benar puas dengan hasil pekerjaan mereka. Tidak sia-sia mereka mengorbankan waktu dan tenaga untuk membantu Hanum keluar dari fitnah yang menjeratnya selama ini.
Marvel menepuk keras pundak Dio. "Sama-sama." Jawabnya.
Kevin dan Daniel pun turut melakukan hal yang sama hingga membuat Dio meringis kesakitan karenanya. "Sialan!" Umpatnya pelan tanpa bisa membalas perbuatan ketiga sahabatnya.
Ketiga pelaku pun tertawa melihat Dio yang nampak kesakitan. Setelah tertawa cukup puas, mereka pun terdiam saat teringat dengan sesuatu.
"Saat ini hubunganmu dan Hanum sudah semakin membaik. Jadi bagaimana hubunganmu dan Calista? Apa sudah berakhir?" Tanya Daniel pada Dio.
__ADS_1
Dio terdiam. Dikeluarkannya ponsel pintarnya dari saku celananya dan dibacanya pesan terakhir yang ia kirimkan pada Calista. "Aku sudah mengakhirinya lewat pesan tapi dia tak membalasnya." Jawab Dio.
"Dia tidak membalasnya? Jadi maksudmu hubungan kalian belum putus dari kedua belah pihak?" Tebak Daniel.
"Seperti itulah. Sepertinya aku harus menemuinya untuk mengakhirinya dengan baik-baik. Kami memulainya dengan bertatap mata dan mengakhirnya juga dengan hal yang sama." Jawab Dio.
Daniel mengangguk. "Memang harusnya seperti itu. Seperti aku dan—" Daniel menghentikan perkataannya saat menyadari ada Kevin di dekatnya.
"Dan masa lalumu dulu." Marvel melanjutkan perkataan Daniel.
"Kau benar." Daniel menjentikkan jarinya di udara. Kevin yang melihatnya pun hanya tersenyum miring dan tak mempermasalahkan masa lalu istrinya dan Daniel.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1