
Divan mengangguk-angguk seolah paham dengan apa yang Hanum katakan.
Hanum tersenyum lalu segera membawa Divan keluar dari dalam kamarnya dan tak lupa mengambil tas kerjanya. Hari ini adalah hari pertama ia bekerja dan Hanum tidak ingin datang terlambat ke perusahaan Alexander.
"Jadi Mamah naik bus saja?" Tanya Divan saat mereka sudah berada di loby apartemen.
"Ya. Divan tenang saja, Mama akan baik-baik saja." Ucap Hanum yang seolah mengerti kekhawatiran putranya saat ini.
"Baiklah, Ma." Jawab Divan.
Hanum mengusap kepala Divan dan menggandeng tangan Divan keluar dari dalam loby apartemen. Di luar gedung, Arthur nampak sudah berdiri di samping mobil bersama seorang sopir dari keluarga Marvel.
"Divan!" Arthur terlihat begitu senang melihat kehadiran Divan.
__ADS_1
Divan segera mendekati Arthur dan ikut tersenyum bersama Arthur. "Apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Divan.
"Tidak. Aku dan Om sopir baru saja sampai." Jawab Arthur.
Divan menolehkan kepalanya ke arah Hanum berada. "Mamah, Divan pamit pergi sekolah dulu." Ucap Divan pada Hanum. Tak lupa Divan pun mengulurkan tangan mungilnya pada Hanum.
Hanum segera menerima uluran tangan putranya untuk menyaliminya. Arthur pun turut melakukan hal yang sama pada Hanum.
"Kalau begitu saya pamit mengantarkan anak-anak pergi sekolah dulu, Nona." Pamit sopir pada Hanum.
Sopir mengangguk lalu membukakan pintu untuk Arthur dan Divan. Setelah melihat mobil yang membawa Divan melaju meninggalkan gedung apartemen, Hanum pun segera melangkah ke arah halte bus berada.
Untung saja tak lama setelah ia berdiri di halte, bus tujuan arah perusahaan Alexander pun tiba. Dengan perasaan senang Hanum masuk ke dalam bus dengan berdempet-dempetan dengan para pekerja lainnya.
__ADS_1
Karena kondisi kursi di dalam bus sudah hampir penuh oleh penumpang, Hanum pun akhirnya hanya bisa berdiri di dalam bus. Walau terus berdiri di dalam bus hingga akhirnya sampai di halte yang berada tidak terlalu jauh dari perusahaan Alexander, tidak membuat Hanum merasa kesal atau pun kehilangan moodnya. Menurutnya itu adalah awal perjuangannya untuk bekerja menghidupi putra kecilnya di ibu kota.
"Huh, syukurlah aku sampai di waktu yang tepat." Ucap Hanum saat sudah berdiri di depan gedung perusahaan Alexander. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk ia datang menemui HRD perusahaan. Waktu itu bisa ia pergunakan untuk mencari tahu ruangan HRD dan berjalan menuju ruanganya berada.
Sejenak Hanum tertegun menatap betapa besar dan tingginya gedung perusahaan di depannya saat ini. Jika dibandingkan dengan tempat ia bekerja dulu, perusahaan Alexander jauh lebih besar dan tinggi.
Hanum segera melangkah masuk ke dalam perusahan karena tidak ingin membuang waktu lebih lama. Ia langsung melangkah ke arah security untuk menanyakan dimana letak ruangan HRD. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Hanum pun segera masuk ke dalam lift dan menuju lantai ruangan HRD berada.
"Divan, doakan agar di hari pertama Mama bekerja bisa berjalan dengan lancar." Gumam Hanum setelah keluar dari dalam lift sambil melangkah menuju ruangan HRD berada.
"Nona Hanum?" Sapa seorang wanita yang sangat terlihat asing di mata Hanum.
"Ya, apa anda mengenal saya?" Tanya Hanum bingung.
__ADS_1
"Ya. Saya Siska kepala HRD di perusahaan ini. Bukankah pagi ini anda ingin menemui saya?" Tanya Siska ramah yang membuat Hanum bingung melihatnya.
***