Istri Figuran

Istri Figuran
Tetaplah kuat


__ADS_3

Hanum tak menjawab justru memeluk tubuh Dio dengan erat.


"Kita keluar, ya. Kita tidak boleh terlalu lama berada di dalam ruangan ini." Tutur Dio lembut.


Hanum menganggukkan kepalanya. Mereka pun keluar dari dalam ruangan ICU setelah sebelumnya menyempatkan berpamitan pada Calista.


"Aw..." setibanya di luar ruangan, Hanum kembali memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Ada apa?" Tanya Dio.


"Tidak apa, apa kau masih ingin berada di sini?" Tanya Hanum.


"Tidak, aku akan mengantarkanmu pulang. Setelah itu aku akan pergi ke kantor polisi untuk melihat dalang dari rencana pembunuhanku waktu itu." Jawab Dio.


"Baiklah, antarkan aku pulang." Ucap Hanum.


Dio mengiyakannya lalu membawa Hanum keluar dari dalam rumah sakit.


"Tadi siapa yang menelefon?" Tanya Hanum setelah mereka berada di dalam mobil.


"Papa. Ingin memastikan apa dalang penembakan itu sudah tertangkap." Jawab Dio.

__ADS_1


Hanum menganggukkan kepalanya. Begitu banyak persoalan yang dihadapi Dio saat ini. Dari mulai Calista sampai dalang penembakan waktu itu. Waktu istirahat Dio pun berkurang akhir-akhir ini karena setelah pulang bekerja ia akan sibuk mengurus permasalahan yang ada saat ini.


Selama berada di dalam perjalanan menuju apartemen Hanum lebih banyak diam sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


"Tidak usah mengantarkanku sampai dalam." Ucap Hanum saat mobil Dio sudah berada di depan gedung apartemen dan Dio hendak keluar dari dalam mobil.


"Apa kau tak apa sendiri?" Tanya Dio memastikan.


Hanum menganggukkan kepalanya. "Aku bukanlah Divan yang harus kau awasi kemana-mana." Jawab Hanum seraya tersenyum.


Dio mengusap rambut istrinya. "Aku akan mengabarimu jika sudah sampai nanti." Ucap Dio.


Kepala Hanum mengangguk. Setelahnya Hanum pun berpamitan keluar dari dalam mobil.


*


Melihat pintu apartemen yang terbuka membuat Divan yang sedang menonton televisi bersama pengasuhnya langsung saja berlari menghampiri Hanum.


"Mamah dah pulang?" Tanya Divan sambil memeluk kaki Hanum.


Hanum mengusap sayang kepala putranya. "Sudah." Jawabnya.

__ADS_1


"Lalu Papah?" Tanya Divan lagi.


"Papa pergi ke kantor polisi. Nanti Papa akan pulang jika urusannya sudah selesai." Jelas Hanum lembut.


Divan menganggukkan kepalanya tanda paham. Walau pun usianya masih kecil namun Divan sudah memahami apa yang terjadi di sekitarnya saat ini.


"Mamah istirahat, ya. Mamah kan sering pusing akhir-akhir ini." Pinta Divan.


Hanum tersenyum mendengarnya. "Divan bermain dengan Bibi dulu, ya. Nanti Mama menyusul kalau sudah selesai istirahat." Tutur Hanum.


Kepala Divan mengangguk. Hanum pun segera melangkah ke arah kamarnya berada setelah sebelumnya menitipkan Divan pada pengasuhnya.


"Kenapa tubuhku mudah sekali lelah akhir-akhir ini." Gumam Hanum setelah berada di dalam kamarnya. Hanum pun mengusap perutnya menyadari efek mudah lelahnya saat ini terjadi karena ada sosok yang sedang bersemayam di dalam perutnya.


Hanum pun segera melepaskan tas selempang dari tubuhnya lalu menjatuhkan tubuhnya dengan hati-hati ke atas ranjang. "Pusing sekali... apa besok aku ke dokter lagi saja untuk meminta obat dan vitamin?" Gumamnya sambil memijit pangkal hidungnya.


"Tetaplah kuat walau keadaan kita saat ini sedang tidak baik-baik saja." Ucap Hanum kemudian sambil mengusap perut.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗


__ADS_2