
Hanum menghela nafas panjang setelah keluar dari dalam kamar. Saat ini ia sedang mencoba mengatur hati dan pemikirannya agar tetap tenang dan baik-baik saja setelah mendengarkan perkataan Dio yang cukup tajam di dengar oleh telinganya.
Jika saja bisa Hanum tidak ingin sama sekali menggunakan motor pemberian dari Dio mengingat pria itu memberinya motor hanya untuk menjaga harga dirinya sebagai seorang pria kaya. Tapi jika Hanum menuruti egonya dengan tidak memakainya, Dio akan dicap sebagai pria pelit dan bermasalah dengan ketiga sahabatnya.
Sudahlah, menurut Hanum saat ini menerima barang pemberian Dio dan memakainya adalah hal yang pantas ia lakukan sebagai bentuk ucapan terima kasihnya karena Dio sudah memberikan tempat tinggal untuk dirinya dan Divan dan sudah mau menerima Divan dengan baik.
Karena sudah bersedia menerima pemberian dari Dio, Hanum pun akhirnya memakai motor baru pemberian dari Dio itu pagi ini untuk pergi bekerja. Senyuman manis nampak terkembang di wajah cantik Hanum karena bisa menikmati jalanan ibu kota menggunakan motor barunya. Jika sedang mengendarai motor sendiri seperti saat ini membuat Hanum teringat dengan masa sekolahnya beberapa tahun lalu sebelum akhirnya ia melanjutkan pendidikan di kota Bandung.
Agh mengingat masa sekolah tentu saja membuat Hanum teringat dengan sosok ayahnya yang dulu sangat menyayanginya. Selama sekolah ayah kandungnya itu tidak ingin membuat Hanum merasa kesusahan hingga akhirnya selalu memberikan fasilitas yang memadai untuk Hanum.
Senyuman manis yang tadi terkembang di wajah cantik Hanum pun layu karena ingat jika saat ini ayahnya sudah tak menganggapnya lagi sebagai seorang anak bahkan sama sekali tidak menanyakan bagaimana kabarnya.
__ADS_1
Saat di perempatan lampu merah, Hanum menoleh ke arah jalan menuju rumah ayahnya berada. Rasanya sudah lama sekali Hanum tidak melintasi jalan itu. Jika saja hubungannya dan ayahnya masih baik mungkin Hanum akan sering melewati jalan itu saat ini dibandingkan jalan menuju apartemen Dio.
Hanum berusaha mengatur hatinya agar tak terbawa suasana rindu dengan ayahnya. Ia mencoba tetap tersenyum walau di dalam hatinya sedang menangis saat ini. Walau sudah ikhlas melepas keberadaan ayahnya di hidupnya, namun Hanum tetaplah seorang anak pada umumnya yang sangat merindukan kasih sayang dari orang tuanya.
"Ayah... bagaimana kabar ayah hari ini? Apa Ayah baik-baik saja?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Hanum. Tidak ada dendam yang Hanum rasakan untuk ayah kandungnya itu. "Sudahlah, Hanum. Jangan terlalu memikirkannya." Ucap Hanum kemudian tak ingin merusak semangat paginya dengan mengingat ayah kandungnya itu.
Hanum pun kembali melajukan motornya menuju perusahaan Alexander saat rambut lalu lintas sudah berubah warna. Beberapa menit berlalu, kini Hanum telah tiba di perusahaan Alexander.
"Hanum." Seseorang nampak menghampiri Hanum dengan langkah tergesa-gesa.
"Apa motor baru ini milikmu?" Tanya Sally seraya tersenyum menatap pada motor Hanum.
__ADS_1
"Emh, ya. Motor ini milikku." Jawab Hanum.
"Wah, akhirnya kau tidak perlu naik bus lagi ke perusahaan." Ucap Sally masih tetap tersenyum.
Hanum mengangguk mengiyakannya. Setelah cukup berbincang, akhirnya mereka pun berjalan ke arah pintu masuk perusahaan.
"Hanum, dua hari lagi wanita yang aku ceritakan padamu waktu itu sudah kembali bekerja di perusahaan." Ucap Sally mengingatkan Hanum pada sosok wanita yang tidak disukai Sally.
*
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.