
"Kau tidak tahu?" Tebak Richard dan Dio hanya diam saja tanda membenarkan perkataan pria itu. "Astaga, Dio. Bagaimana bisa kau bersikap ceroboh seperti ini. Kau bukan hanya tidak mengetahui istrimu sedang hamil namun kau juga mengabaikannya." Richard dibuat tak habis pikir dengan kelakukan sepupunya itu.
"Istrimu hamil?" Dio tak memperdulikan perkataan Richard untuknya. Saat ini ia hanya fokus dengan perkataan Richard yang mengatakan jika Hanum sedang hamil. Entah perasaan apa yang Dio rasakan saat ini. Perasaan senang karena Hanum hamil atau perasaan bersalah yang mendominasi karena sudah mengabaikan istrinya tersebut.
"Maafkan aku." Lirih Dio teruntuk istrinya yang berada di dalam ruangan pemeriksaan. Dio yang merasa sangat bersalah pun akhirnya terduduk di atas lantai begitu saja. Ia mengusap kasar wajahnya dan menjambak rambutnya frustrasi. "Jika terjadi sesuatu kepada Hanum aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Gumam Dio.
Daniel yang melihat sahabatnya tengah frustrasi pun menepuk pundak Dio. "Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan dari kesalahan itulah mereka bisa memperbaiki keadaan untuk kedepannya." Ucap Daniel.
Dio hanya diam karena fokusnya masih tertuju pada istrinya
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Dio seketika bangkit dari duduknya saat melihat dokter yang memeriksa Hanum keluar dari dalam ruangan pemeriksaan.
"Keluarga Nona Hanum." Ucapnya lembut.
__ADS_1
"Saya suaminya. Bagaimana dengan keadaan istri saya?" Tanya Dio. Ia nampak begitu tidak sabar saat mempertanyakannya.
"Saat ini kondisi Nona Hanum sudah sedikit membaik setelah dipasangkan infus." Jawab Dokter.
"Lalu kenapa istri saya bisa pingsan?" Tanya Dio kemudian.
"Kandungan Nona Hanum terganggu karena Nona Hanum terlalu banyak pikiran dan tidak makan dengan teratur. Nona Hanum juga kekurangan vitamin dalam tubuhnya. Sepertinya Nona Hanum tidak memakan obat dan vitamin yang diberikan dengan teratur." Jelas Dokter.
Deg
Dio merasa tertampar mendengar penjelasan dokter tersebut jika keadaan istrinya saat ini tidak baik-baik saja karena istrinya itu terlalu banyak pikiran. Dan tentu saja hal yang memicu istrinya banyak pikiran adalah sikapnya yang jarang pulang ke rumah dan memiliki waktu untuk memperhatikan anak dan istrinya.
Dio menganggukkan kepalanya menyetujui saran dari dokter. Setelah mendapatkan jawaban dari Dio, dokter pun meminta Dio untuk mengurus administrasi perawatan Hanum lebih dulu agar pihak rumah sakit mempersiapkan ruangan perawatan untuk Hanum.
Richard yang mengetahui Dio tidak bisa mengurus administrasi tersebut karena Dio ingin segera bertemu dengan cepat mengatakan jika dirinya yang akan mengurus administrasi perawatan Hanum.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Dio pada Richard.
Richard menganggukkan kepalanya. "Masuklah. Istrimu menunggu." Ucap Richard.
Dio mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Saat sudah berada di dalam ruangan, perasaan bersalah semakin menyeruak di dalam dada Dio melihat istrinya yang kini terbaring di atas ranjang dengan wajah yang nampak pucat.
"Hanum..." Dio melangkah dengan lemah ke arah Hanum. "Maafkan aku, Hanum. Maafkan aku yang sudah bersikap buruk kepadamu." Ucap Dio dengan kedua bola mata yang kini berkaca-kaca.
Hanum yang masih belum sadar dari pingsannya pun hanya diam dengan kedua mata terpejam.
"Maafkan kebodohanku, Hanum. Maaf karena aku sudah mengabaikanmu dan anak-anak kita hingga kau sakit seperti saat ini." Sesal Dio.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗