
"Apa kau memiliki urusan dengan Tuan Mahesa, Hanum?" Tanya Dea setelah cukup lama Hanum terdiam.
Hanum menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Mungkin saja Tuan Mahesa hanya ingin memantau kinerja bawahannya." Jawab Hanum agar Dea tak terlalu jauh menduga-duga.
Dea pun mengangguk mengiyakan perkataan Hanum.
"Ayo lanjutkan kembali pekerjaan kita." Ajak Hanum dan kembali diangguki Dea sebagai jawaban.
Apa benar jika tadi Tuan Mahesa datang dan memperhatikan diriku. Tapi untuk apa Tuan Mahesa datang ke sini hanya untuk memperhatikan aku? Apa Tuan Mahesa memiliki kepentingan denganku? Tanya Hanum dalam hati sambil menduga-duga alasan Tuan Mahesa datang menghampirinya.
*
Waktu tanpa terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin Hanum merasakan jantungnya berdetak begitu cepat karena kedatangan Tuan Mahesa dan keluarganya untuk melamar dirinya. Dan kini Hanum kembali dibuat berdebar-debar karena dalam waktu satu minggu lagi Tuan Mahesa dan keluarganya akan kembali datang untuk menikahi anaknya dengannya.
"Mamah kenapa melamun?" Tanya Divan yang sejak tadi memperhatikan Hanum hanya diam berdiri di depan balkon kamarnya dengan pandangan kosong ke depan.
__ADS_1
Hanum pun tersadar dari lamunan panjangnya. "Divan, kau sudah selesai bermain, Nak?" Tanya Hanum.
"Sudah, Mah. Divan capek main terus tuh, Mah." Jawab Divan.
Hanum tersenyum mendengarnya. Ia pun meminta Divan mendekat ke arahnya lalu mengusap rambut Divan.
"Mama kenapa melamun?" Tanya Divan lagi karena tadi pertanyaannya belum dijawab oleh Hanum.
"Mama tidak melamun." Bohong Hanum sambil mencoba tersenyum.
Divan tentu saja tak percaya begitu saja. Ia pun menatap Hanum dengan intens seoalah meminta Hanum untuk jujur kepadanya.
"Apa Mama takut?" Tanya Divan.
Hanum menggelengkan kepalanya. "Mamah tidak takut. Hanya kepikiran saja." Jawab Hanum.
__ADS_1
"Mah..." Divan tiba-tiba memeluk kaki Hanum. "Apa Mama akan tetap sayang sama Divan jika Mama sudah menikah nanti?" Tanya Divan dengan wajah yang sudah berubah layu.
Hanum tentu saja dibuat terkejut mendengar pertanyaan dari putranya. "Kenapa Divan bertanya seperti itu, hm?" Tanya Hanum yang ingin mengetahui isi hati putranya.
"Divan takut kalau Mama gak sayang Divan lagi kalau sudah menikah. Mama lebih sayang sama Om Dio saja." Jawab Divan.
"Divan..." Hanum kembali mengusap rambut putranya. "Kenapa berpikir seperti itu, hm? Tentu saja Mama akan selalu menyayangi Divan walau Mama sudah menikah nanti. Divan adalah jantung hati Mama dan Mama sangat menyayangi Divan dari pada diri Mama sendiri. Jangan pernah berpikir jika Mama tidak akan menyayangi Divan lagi karena itu tidak mungkin terjadi." Tutur Hanum lembut.
"Apa benar begitu, Ma?" Tanya Divan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Hanum pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Benar... Divan adalah segalanya untuk Mama." Ucap Hanum lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Divan. Setelahnya Hanum pun membawa tubuh Divan ke dalam pelukannya.
"Apa akhir-akhir ini Divan selalu berpikiran jika Mama tidak akan menyayangi Divan jika Mama sudah menikah nanti?" Tanya Hanum.
Divan pun menganggukkkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat respon putranya tentu saja membuat Hanum merasa sedih karena ia tidak menyangka jika akhir-akhir ini Divan memendam rasa takutnya seorang diri tanpa berniat menceritakannya pada dirinya.
__ADS_1
"Mama sangat menyayangi Divan dan Divan adalah segalanya untuk Mama." Ucap Hanum sambil mengeratkan pelukannya pada putranya.
***