
"Minum dulu susunya, Mah." Ucap Divan saat ia dan Hanum baru saja selesai menghabiskan sarapan masing-masing.
Hanum tersenyum dan mengangguk. Diraihnya gelas berisi susu tersebut lalu diteguknya hingga tandas. Satu bulan terakhir ini ia memang rutin meminum susu dan Divan pun selalu mengingatkannya untuk itu.
"Apa sudah tidak pusing lagi, Ma?" Tanya Divan.
Hanum menggeleng. "Sudah tidak. Ini Mama sudah siap untuk pergi bekerja." Jawab Hanum.
"Kalau pusing tidak usah bekerja saja, Ma. Mamah istirahat di rumah saja." Pesan Divan. Sudah beberapa kali Divan melihat Hanum tiba-tiba memegang kepalanya akibat pusing dan Divan sangat mencemaskan ibunya itu.
"Mamah sudah tidak pusing lagi. Divan tenang saja, ya." Ucapnya sambil mengusap lengan putranya.
Divan menganggukkan kepalanya. "Papah jarang pulang sekarang ya, Mah." Keluh Divan.
Hanum terdiam. Entah mengapa ia mulai merasa sedih karena suaminya jarang pulang ke apartemen akhir-akhir ini. Suaminya itu lebih banyak menghabiskan waktu ke rumah sakit dan malam harinya sibuk mencari bukti kebusukan dari rivalnya yang sudah berniat menyakitinya.
"Mah?" Divan mendongak menatap Hanum.
"Papah sedang sibuk dan kita harus mengerti, ya." Tutur Hanum lembut.
__ADS_1
Divan hanya diam dengan mata menatap Hanum intens. Hanum tak kuasa melihat tatapan penuh kasih sayang putranya kepadanya. Ia pun memeluk Divan erat seakan menyalurkan kesedihannya saat ini.
"Sudah waktunya kita berangkat." Ucap Hanum setelah melepaskan pelukannya.
Divan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan Hanum. "Mamah berangkat sendiri saja? Tidak sama sopir Divan saja?" Tanya Divan.
Hanum menggeleng. "Sendiri saja. Mama kan bisa menyetir sendiri." Jawabnya.
Divan menganggukkan kepala tanda mengerti. Ibu dan anak itu pun akhirnya beranjak dari meja makan dan bersiap berangkat menuju tujuan mereka masing-masing.
Saat sedang mengendarai mobilnya menuju perusahaan Alexander, Hanum lagi-lagi memegang kepalanya yang terasa pusing. "Kenapa rasanya pusing sekali." Gumam Hanum sambil menurunkan laju kendaraannya. Di saat sedang pusing seperti ini tidak baik rasanya jika ia berkendara dengan kecepatan tinggi.
"Kau pasti kuat, Hanum." Gumam Hanum menguatkan dirinya. Hanum pun dengan hati-hati mengendarai mobilnya hingga akhirnya sampai di perusahaan Alexander.
"Ini sungguh tidak mengenakkan." Gumam Hanum sambil terus melangkah.
Saat sudah berada di dalam lift, Hanum semakin diuji karena aroma parfum rekan kerjanya semakin semerbak hingga membuat kepalanya semakin pusing.
Untung saja ia tidak harus berlama-lama di dalam lift dan bisa menghembuskan nafas lega setelah keluar dari dalam lift.
__ADS_1
"Hanum?" Suara Sally memanggil namanya membuat Hanum menoleh ke sumber suara.
"Hai, Sally." Balas Hanum.
Sally mendekati Hanum dan mengamati wajahnya dengan intens. "Apa kau tidak apa-apa, Hanum? Wajahmu nampak pucat sekali." Ucap Sally.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Hanum seraya tersenyum.
Sally tentu tidak percaya begitu saja. "Aku buatkan teh ya? Kau terlihat pucat sekali." Tawar Sally.
Hanum menggeleng. "Biar aku buat sendiri saja. Kalau begitu aku ke pantry dulu." Pamit Hanum.
"Tapi—" perkataan Sally terhenti saat Hanum menepuk pundaknya.
Sally pun memperhatikan Hanum yang kini tengah melangkah meninggalkan ruangan kerja mereka hingga akhirnya ia dibuat terkejut saat melihat Hanum tiba-tiba saja terjatuh tepat di depan pintu masuk ruangan kerja mereka.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗