
Dio hampir saja menggebrak meja di depannya saat ini jika saja ia tidak mengingat dimana ia berada saat ini. Bisa-bisanya wanita biasa seperti Hanum berbicara seperti itu kepadanya tanpa perduli siapakah jati dirinya.
"Percaya diri sekali dirimu untuk menjadi istriku." Ucap Dio dengan tatapan berubah tajam.
"Tentu saja. Saya bisa cukup percaya karena sebentar lagi kita akan menikah, Tuan." Jawab Hanum.
"Bisa saja saya berbuat nekat dengan kabur dari acara pernikahan kita satu bulan lagi." Ucap Dio sedikit mengancam.
"Silahkan saja, Tuan. Tapi saya yakin anda tidak ingin membuat Nenek anda yang baru saja sembuh dari sakitnya kembali bertambah sakit karena niat anda itu." Jawab Hanum.
Deg
Dio tak dapat berkata-kata karena ia sedang membayangkan bagaimana nasib neneknya nanti jika ia benar-benar nekad untuk kabur dari acara pernikahannya dan Hanum nanti.
Karena tidak tahu lagi harus berkata apa pada Hanum, Dio pun memutuskan pergi dari hadapan Hanum tanpa berpamitan. Anggaplah saat ini Dio bersikap tidak sopan. Namun semua itu ia lakukan agar Hanum berpikir jika dirinya tidak baik dan dapat berpikir ulang untuk menerima pernikahan mereka.
Melihat kepergian Dio tentu saja membuat Hanum menghembuskan nafas lega. Rasa sesak yang sejak tadi ia tahan karena perkataan Dio akhirnya bisa sedikit berkurang setelah kepergian pria itu.
"Hanum?" Ucap Dea yang baru saja bergabung bersama Hanum.
__ADS_1
"Dea?" Hanum tersenyum pada teman baiknya itu.
"Bukankah itu tadi Tuan Dio, ada apa dia datang menghampirimu?" Tanya Dea merasa penasaran.
"Emh, Tuan Dio hanya mempertanyakan sesuatu hal kepadaku." Jawab Hanum.
"Hal apa itu?" Tanya Dea.
"Tidak terlalu penting. Ayo duduk dulu." Ajak Hanum.
Dea mengiyakannya lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Hanum.
"Tumben sekali Tuan Dio datang menghampirimu seperti itu. Apa kedatangannya membawa sesuatu maksud kepadamu?" Tanya Dea.
"Ohh... baiklah kalau begitu." Ucap Dea memilih percaya dengan perkataan Hanum.
"Apa kau sudah memesan makananmu?" Tanya Hanum.
"Sudah. Tinggal menunggu pesananku datang saja." Jawab Dea.
__ADS_1
*
Tiga hari berada di kota Bandung, akhirnya Dio pun memutuskan untuk kembali ke ibu kota untuk mengambil surat-surat yang dibutuhkan untuk administrasi pendaftaran pernikahannya dengan Hanum.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga jam perjalanan, akhirnya Dio pun telah sampai di depan apartemen miliknya.
"Ini sungguh gila." Gumam Dio sambil menekan sandi untuk membuka pintu apartemennya.
Saat pintu baru saja terbuka, Dio dibuat terkejut melihat lampu apartemennya yang menyala. "Perasaan aku sudah mematikannya sebelum berangkat ke Bandung." Ucap Dio sambil melangkah masuk.
"Selamat datang calon pengantin." Sapa Marvel yang tiba-tiba saja sudah berdiri tidak jauh dari Dio berada.
"Kau? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Dio merasa terkejut. Kini ia sudah mendapatkan jawaban kenapa lampu apartemennya menyala karena ada sahabatnya di sana.
"Karena aku ingin menyambut kepulanganmu." Jawab Marvel seadanya.
"Menyambut kepulanganku?" Ulang Dio dan diangguki Marvel sebagai jawaban.
"Ya, kami ingin menyambut kepulangan sahabat baik kami dari rumah calon istrinya." Timpal Daniel yang sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Kau..." belum lepas keterkejutan Dio dengan kehadiran Marvel, kini ia sudah dibuat kembali terkejut melihat Daniel dan Kevin.
***