Istri Figuran

Istri Figuran
Kenapa tidak bertanya?


__ADS_3

"Jangan berkata seperti itu. Ini semua terjadi kan karena kau sedang hamil. Lagi pula setiap pagi kau selalu menyempatkan banyak waktu untuk Divan. Divan juga pasti akan mengerti dengan kondisimu saat ini. Jadi jangan bersedih lagi, ya." Pinta Dio.


Hanum masih saja menangis. Semenjak hamil selain ia mudah mengantuk dan lelah, ia juga mudah sekali menangis karena perasaannya yang mulai sensitif.


Melihat istrinya menangis membuat Dio menepikan mobilnya. Setelahnya Dio pun membawa tubuh Hanum ke dalam dekapannya. "Semenjak hamil kau jadi sangat sensitif dan menggemaskan." Ucap Dio sambil mengusap punggung istrinya.


Hanum mencubit lengan suaminya itu. "Aku tidak menggemaskan." Protesnya karena ia merasa tidak pernah bersikap menggemaskan di depan Dio.


Dio tertawa saja tanpa mengiyakan perkataan istrinya tersebut. "Jangan menangis lagi, ya. Anak kita bisa ikut bersedih jika kau bersedih terus seperti ini." Pinta Dio lembut.


Hanum menganggukkan kepalanya. "Terima kasih ya karena kau sudah baik karena selalu menyempatkan waktu untuk Divan." Ucap Hanum.


"Sudahlah, jangan berterima kasih terus kepadaku." Jawab Dio dan diangguki sebagai jawaban oleh Hanum.


Dio pun melajukan kembali mobilnya menuju apartemen mereka berada. Sesampainya di apartemen, mereka sudah disambut dengan senyuman mereka di wajah putra kecil mereka.


"Papah... Mamah..." Divan berlari ke arah kedua orang tuanya dan memeluk kaki kedua orang tuanya.


Hanum dan Dio saling tersenyum dan mengusap kepala Divan secara bersamaan.

__ADS_1


"Mamah dan Papah sudah pulang." Ucap Divan dan diangguki Dio dan Hanum sebagai jawaban.


"Apa Divan sudah mandi, Nak?" Tanya Hanum pada putranya karena rumbut Divan terasa lembab dan sangat wangi.


"Sudah, Mah. Divan baru saja mandi dan turun dari kamar." Jawabnya.


"Lalu dimana Bibi? Kenapa tidak kelihatana?" Tanya Hanum karena tidak melihat pengasuh Divan.


"Bibi ada di dapur. Katanya Bibi ingin menyalin makanan di dapur, Ma." Jawab Divan.


"Menyalin makanan? Makanan apa itu Divan?" Tanya Hanum bingung.


"Makanan dari cafe milikku. Tadi aku meminta salah satu karyawan cafe untuk mengantarkan makanan ke apartemen." Jawab Dio.


Dio menggelengkan kepalanya. "Kau harus ingat syarat yang aku berikan agar kau masih bisa tetap bekerja. Dan salah satu syarat itu adalah agar kau tidak bekerja terlalu lelah dan banyak istirahat setelah berada di rumah." Ucap Dio.


Hanum menghela nafas. Kali ini ia tidak bisa membantah perkataan suaminya dan membiarkan suaminya bersikap sesuka hatinya.


"Tapi untuk sarapan pagi harus aku yang membuatnya. Aku masih ingin memasakkan makanan untuk anak dan suamiku." Pinta Hanum.

__ADS_1


"Terserah kau saja." Jawab Dio tak ingin membuat istrinya itu bersedih jika dirinya menolak.


Sesaat kemudian Dio dan Hanum pun berpamitan pada Divan untuk masuk ke kamar mereka untuk membersihkan diri lebih dulu.


Saat sudah berada di dalam kamar Dio pun teringat akan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Hanum saat Dio menatap wajahnya dengan intens.


"Aku ingin bertanya kepadamu." Jawab Dio.


"Tanyakan saja." Ucap Hanum.


"Kenapa selama kita menikah kau tidak pernah memintaku untuk mengatakan tentang perasaanku atau kata cinta untukmu?" Tanya Dio bingung.


Hanum yang mendengarkan pertanyaan suaminya pun tersenyum. "Untuk apa aku bertanya jika aku sudah bisa merasakan kasih sayang dan cinta yang kau berikan untukku dan anak kita?" Jawab Hanum.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗


__ADS_2