
Mama Jelita mengiyakannya. Ia pun mengajak Cita untuk naik ke lantai atas menuju kamar Cita berada. Setelah sampai di dalam kamar Cita, Mama Jelita dibuat terkejut sampai mengelus dada karena Cita tiba-tiba saja melemparkan tas yang ia bawa dengan keras ke atas lantai hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
"Cita apa-apaan ini?!" Suara Mama Jelita terdengar meninggi. Pun dengan wajahnya yang nampak berang.
"Cita tidak terima dengan apa yang Cita dengar tadi, Ma!" Rungut Cita lalu menghentakkan kedua kakinya ke atas lantai.
Mama Jelita mengela nafasnya yang terasa kian memberat. "Jaga emosimu, Cita. Sama seperti dirimu Mama juga tidak terima melihat dia bahagia!" Ucap Mama Jelita.
Wajah Cita masih nampak masam. Hari ini terlalu banyak pernyataan tak terduga tentang siapa jati diri Hanum saat ini hingga membuat dadanya bergemuruh. Belum hilang rasa terkejutnya mengetahui jika Hanum adalah istri dari Dio yang ia ketahui adalah pengusaha sukses, kini ia sudah kembali dibuat terkejut mendengar Hanum adalah menantu dari keluarga Mahesa.
"Sekarang kita harus bagaimana, Ma?" Tanya Cita kemudian. Ia berharap mamanya dapat memberi solusi dari permasalahan mereka saat ini.
Mama Jelita diam sambil memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa sakit. "Untuk saat ini Mama belum menemukan cara agar wanita itu tidak terlalu lama berada di atas angin." Ucap Mama Jelit.
__ADS_1
Cita bersungut-sungut. "Jika dibiarkan seperti ini bisa-bisa Papa akan mudah luluh pada Hanum dan menyerahkan seluruh hartanya pada Hanum." Rutuk Cita.
"Itu tidak boleh terjadi. Bagaimana pun juga Papa tidak boleh berbaikan dengannya." Jawab Mama Jelita cepat. Rasa takut mulai menghantuinya jika saja perkataan putrinya benar. Suaminya akan luluh pada Hanum dan akhirnya suaminya itu hanya melimpahkan kasih sayang dan hartanya hanya untuk Hanum.
"Jika Mama tidak mau maka dari malam ini kita harus mencari cara agar wanita itu hilang dari kehidupan keluarga Tuan Mahesa. Dia sangat tidak pantas bersanding dengan anak sulung Tuan Mahesa!" Ucap Cita menggebu-gebu.
"Lalu siapa yang pantas untuk anak sulung Tuan Mahesa?" Tanya Mama Jelita.
"Tentu saja aku." Jawab Cita sangat percaya diri.
"Ya, tentu saja aku, Ma. Aku jauh lebih pantas bersanding dengan Tuan Dio dibandingkan wanita murahan itu!" Ucap Cita.
Kepala Mama Jelita mengangguk mengiyakan perkataan putrinya. "Kau benar. Hanya kau yang cocok bersanding dengan anak Tuan Mahesa. Seharusnya sejak awal kau sudah mencari cara agar bisa dekat dengan anak Tuan Mahesa itu!" Mama Jelita pun menatap kesal putrinya itu.
__ADS_1
Cita menghela nafas panjang. "Dia adalah pria yang susah didekati Ma walau hobinya suka tebar pesona di perusahaan Alexander." Jawab Cita mengingat sikap Dio. Di balik sikap Dio yang suka tebar pesona dimana-mana, tapi pria itu adalah pria yang setia tidak mudah didekati oleh wanita mana saja selain kekasih hatinya.
"Huh, kepala Mama jadi sakit memikirkannya!" Keluh Mama Jelita. Ya, begitulah Mama Jelita yang selalu bereaksi tidak senang jika mendengar Hanum bahagia.
"Mama kira hanya Mama saja? Aku juga, Ma!" Gerutu Cita.
"Sudahlah, kita lanjutkan pembahasan ini besok. Mama ingin ke kamar dulu menenangkan hati Mama." Pamit Mama Jelita lalu melangkah keluar dari kamar Cita. Ia mengurungkan niatnya untuk membahas hingga tuntas persoalan tentang Hanum karena kepalanya tiba-tiba saja sakit.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗