
"Hanum, hari ini aku pulang sedikit malam." Hanum membaca pesan yang baru sama masuk di ponselnya dari suaminya. "Pulang malam? Apa dia lembur lagi hari ini?" Tanya Hanum setelah membalas pesan dari suaminya itu.
Kening Hanum dibuat mengkerut. Sudah tiga hari belakangan ini suaminya terlihat sangat sibuk dan sering pulang malam. Entah apa yang dikerjakan oleh suaminya itu. Hanum pun merasa enggan untuk mempertanyakannya.
"Apa dia terlalu sibuk mempelajari pekerjaan di perusahaan? Atau sibuk mengurus cafe?" Hanum mulai menebak-nebak apa kesibukan suaminya itu.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Hanum buru-buru turun dari atas ranjang dan melangkah ke arah pintu untuk membuka pintu kamarnya yang terkunci. "Divan, ada apa Nak?" Tanya Hanum.
Divan memasang wajah memelas. "Makan yuk, Ma. Divan sudah lapar." Ucapnya sambil mengusap perut.
Hanum merutuki dirinya. Terlalu sibuk memikirkan suaminya membuat ia melupakan anaknya yang belum makan. "Ayo kita turun." Ajak Hanum. Diraihnya tangan mungil Divan dan dituntunnya berjalan ke arah tangga.
"Papah mana, Ma? Belum pulang?" Tanya Divan dengan kepala mendongak.
__ADS_1
"Papa lembur lagi malam ini. Kita makan berdua saja, ya." Jawab Hanum.
Wajah Divan nampak ditekuk. Sebenarnya ia sudah rindu makan disuapi oleh ayah sambungnya itu.
"Oh ya, tadi Papa bilang kalau pulang ingin memberikan hadiah untuk Divan kalau makannya banyak malam ini." Ucap Hanum mengingat pesan terakhir yang dikirimkan suaminya setelah berpamitan.
Wajah Divan masih saja murung. Bukan hadiah yang ia inginkan melainkan sosok ayah sambungnya itu makan bersama dengan mereka.
Melihat putranya yang masih saja murung membuat Hanum mengusap kepala putranya dengan tangannya yang bebas. "Kita harus mengerti ya kalau saat ini pekerjaan Papa sudah bertambah bukan pemilik cafe lagi. Papa juga bekerja di perusahaan milik Kakek." Hanum mencoba memberikan pengertian pada putranya.
"Iya, Ma. Maafkan Divan ya, Ma." Jawab Divan. Merasa bersalah karena sudah memperlihatkan wajah murung pada Mamanya.
Divan mengangkat jari jempolnya seraya berucap. "Oke, Ma."
Hanum tersenyum. Mereka pun menuruni anak tangga satu persatu hingga akhirnya tiba di lantai bawah. Sebelum masuk ke dalam dapur, Hanum menyempatkan lebih dulu menatap jam yang menggantung di dinding ruang tamu.
"Sudah jam tujuh. Semoga Dio menyempatkan untuk makan malam di sela pekerjaannya." Gumam Hanum.
*
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Dio tak melakukan hal yang seperti Hanum harapkan yaitu menyempatkan untuk makan malam di sela pekerjaannya. Pria itu nampak sibuk bersama ketiga sahabatnya merapikan banyak bukti yang mereka dapat dan besok hari akan ditunjukkan kepada Papa Irfan.
"Videonya sudah disalin pada satu flash disk?" Tanya Daniel pada Marvel.
Marvel mengangguk lalu memperlihatkan isi Flash disk dari layar laptopnya yang sedang menyala. Sebenarnya bisa saja mereka meminta orang kepercayaan mereka yang mengerjakannya, namun mereka memilih mengerjakannya berempat saja agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka.
"Tidak mau makan dulu?" Dio teringat jika ketiga sahabatnya belum menyentuh makanan apapun dari sore.
"Selesaikan ini dulu. Setelah selesai baru kita makan." Jawab Daniel dan disetujui oleh Kevin dan Marvel.
Dio mengiyakan saja. Ia merasa beruntung memiliki ketiga sahabat yang selalu ada di setiap senang dan sedihnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1