
"Papa..." ulang Divan pelan.
Dio menghela nafasnya. Nampak sekali jika Divan merasa terkejut mendengar kata papa dari mulutnya. Ia memang sudah berjanji pada Bu Shanty untuk merubah gaya bicaranya pada Divan dan menganggap Divan sebagai anaknya sendiri. Jadilah saat ini Dio menyebutkan kata Papa untuk dirinya sendiri.
"Ya. Papa." Balas Dio.
Divan mengembangkan senyumannya. "Divan punya Papa." Ucap Divan.
Dio tertegun mendengarnya. Ia pun teringat perkataan mamanya jika Divan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sejak kecil. Pertanyaan pun mulai muncul di benaknya. Apa ayah Divan sudah meninggal sebelum Divan lahir ke dunia?
Pertanyaan dalam benak Dio buyar saat Hanum datang menghampiri mereka. Hanum terlihat membawa tas kecilnya dan menarik kopernya yang berukuran cukup besar. Wajar saja di dalam koper berisik pakaiannya dan juga pakaian Divan.
Dio pun beranjak dari duduknya. Ia pun mengajak Hanum dan Divan untuk pergi meninggalkan apartemen karena di lobby apartemen sudah ada keluarganya yang sedang menunggu mereka turun.
Hanum mengangguk mengiyakannya. Sebelum keluar dari apartemen Hanum sejenak menatap ke dalam apartemennya. Matanya berkaca-kaca mengingat jika mulai besok ia tak lagi melihat bentuk apartemen kecilnya. Apartemen yang sudah hampir lima tahun belakangan ini menjadi tempat tinggalnya dan Divan. Terlalu banyak kenangan di apartemen ini. Dan saat ini Hanum harus meninggalkannya.
__ADS_1
Selamat tinggal. Ucapnya dalam hati. Hanum berharap akan ada waktu dan kesempatan yang akan membawa mereka kembali ke apartemen kecil ini.
*
"Hanum, Divan." Bu Shanty tersenyum merekah menatap menantu dan cucunya. Ia melangkah mendekati Divan lalu mengusap kepalanya. "Jagoan Nenek sudah ingin pergi, ya." Ucapnya.
Divan menganggukkan kepalanya. "Nenek tidak ikut?" Tanyanya.
Bu Shanty menggelengkan kepalanya. "Tidak. Di lain waktu Nenek akan datang mengunjungi kalian. Saat ini jadwal Nenek masih cukup padat di kota ini." Jawab Bu Shanty.
Divan mengangguk saja seolah mengerti maksud perkataan Bu Shanty. Pandangan Bu Shanty pun beralih pada Hanum yang sedang tersenyum padanya.
"Hanum dan Divan juga pasti sangat merindukan Ibu." Jawab Hanum.
Bu Shanty tersenyum lalu memeluk tubuh Hanum cukup lama.
__ADS_1
Dio menatap interaksi Mamanya dan Hanum dengan malas.
Kami hanya pindah kota bukan pindah alam. Ucapnya dalam hati.
Setelah cukup berpamitan pada Tuan Mahesa, Nenek Eno dan Digo, Hanum dan Dio pun membawa Divan masuk ke dalam mobil Dio.
Bu Shanty dan kelurganya pun mengantarkan kepergian Hanum dan Dio hingga akhirnya mobil Dio melaju meninggalkan gedung apartemen.
"Jika Mama ingin Mama bisa ikut bersama Kakak ke Ibu kota. Minggu depan Papa bisa menjemput Mama kembali." Ucap Digo.
"Tidak. Biarkan saja Kakakmu pergi bersama istri dan anaknya saja. Lain waktu Mama akan menyusul." Jawab Bu Shanty.
Digo mengangguk saja dan tak lagi bersuara. Setelah tak melihat bayangan mobil Dio lagi, Tuan Mahesa pun mengajak anak, istri dan ibunya untuk kembali pulang ke kediaman mereka.
Sementara Hanum yang sudah berada di dalam mobil nampak diam sambil menatap Divan yang tengah duduk di kursi belakang. Divan pun turut diam sambil menatap pada Hanum. Mereka seolah berbicara hanya lewat tatapan mata.
__ADS_1
Dio yang sekilas menatap pada Hanum turut memilih diam membirkan Hanum dan Divan saling bertatap mata.
***