
"A-aku..." Hanum nampak ragu untuk menjawab.
"Tidak perlu kasihan pada mereka. Mereka bekerja di sini tidak gratis dan digaji oleh Richard dengan gaji pembantu pada umumnya." Ucap Dio.
"Tapi kenapa Mama Jelita bisa bekerja di sini sebagai pembantu?" Tanya Hanum pada Richard.
"Karena dia membutuhkannya." Jawab Richard santai.
Bertambah bingung saja Hanum mendengar jawaban dari Richard. Bagaimana bisa Mama Jelita mau bekerja sebagai pembantu di rumah milik Richard. Rasanya sangat tidak mungkin sekali mengingat gengsi mama tirinya itu sangat tinggi.
Cita yang baru saja selesai mengepel lantai atas rumah Richard pun turun ke lantai bawah dengan wajah yang penuh dengan keringat. Karena terlalu lelah dengan pekerjaannya membuat Cita tidak melihat ke sekitarnya.
"Kak Cita!" Mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya membuat Cita menoleh ke sumber suara.
"Hanum!" Ucap Cita sedikit keras dengan wajah terkejut. Bukan hanya terkejut melihat Hanum. Tapi Cita juga merasa terkejut melihat keberadaan Papa Irfan dan yang lainnya di sana.
"Cita, kemarilah!" Richard yang tidak memperdulikan keterkejutan Cita memanggil wanita itu untuk mendekat ke arahnya.
Mau tidak mau Cita mendekat pada Richard dengan menahan rasa malu di dadanya karena kini adik tirinya dan ayah tirinya melihat keadaannya sebagai pembantu.
"Apa kau sudah membersihkan lantai atas dengan bersih? Dan apakah kau sudah memastikan tanaman yang ada di atas sudah disiram seluruhnya?" Tanya Richard.
__ADS_1
"Su-sudah, Tuan." Jawab Cita.
"Bagus. Kau memang pembantu yang bisa diandalkan." Puji Richard namun terdengar mengejek di telinga Cita.
Cita yang merasa malu mendengar kata pembantu yang keluar dari mulut Richard menundukkan wajahnya agar tak melihat Hanum dan keluarganya.
"Sekarang pergilah ke belakang. Kau boleh istirahat sebelum jam makan siang tiba." Ucap Richard.
Cita mengiyakannya lalu ia segera beranjak dari hadapan mereka semua.
"Oh astaga... kasihan sekali dia." Ucap Digo setelah kepergian Cita.
"Aku hanya kasihan saja karena dia tidak bisa menggapai angan-angannya yang terlalu tinggi itu." Ucap Digo bermaksud meledek Cita.
Richard dan Dio tertawa bersamaan. Sedangkan Hanum hanya bisa menahan rasa ibanya dalam hati kenapa kakak tiri dan mama tirinya itu bisa berubah nasib seperti saat ini.
Tak ingin istrinya terus memikirkan dua wanita itu, Dio pun mengalihkan pembicaraan mereka ke arah lain.
"Oh ya, Dio. Apa Calista sudah keluar dari rumah sakit saat ini?" Tanya Richard yang tiba-tiba saja teringat dengan mantan kekasih Dio.
"Sudah. Dia sudah keluar dari rumah sakit sekitar dua minggu yang lalu." Jawab Dio.
__ADS_1
"Oh... syukurlah kalau begitu. Semoga saja keadaannya cepat pulih." Harap Richard.
Dio dan yang lainnya mengaminkannya.
Tak berselang lama Mama Jelita pun datang membawakan minuman untuk mereka.
Dengan menahan rasa malu Mama Jelita meletakkan minuman yang ia buat kehadapan mereka semua.
"Terima kasih." Ucap Hanum lembut pada Mama Jelita.
Mama Jelita mengangguk saja tak menjawab perkataan Hanum. Setelah selesai melakukan tugasnya Mama Jelita pun berpamitan untuk kembali ke dapur.
Sebelum mempersilahkan Mama Jelita kembali ke dapur Richard menitipkan pesan agar Mama Jelita tidak lupa mempersiapkan makan siang untuk mereka semua.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1