
"Dio, sesuai apa yang sudah kita bahas tadi malam di apartemen Hanum, satu bulan lagi adalah waktu pernikahanmu dan Hanum dilangsungkan. Mulai saat ini kau sudah bisa mengurus segala administrasi apa saja yang dibutuhkan untuk akad nikah kalian nanti." Ucap Tuan Mahesa.
Dio merasa malas mendengarnya. "Kenapa tidak Papa dan Mama saja yang mengurusnya. Kan pernikahan Dio atas keinginan Mama dan Papa." Jawab Dio.
"Dio!" Tuan Mahesa menaikkan nada suaranya. "Kau jangan bersikap tidak sopan pada orang tua, Dio!" Ucap Tuan Mahesa tegas.
Dio menatap papanya itu dengan malas. "Dio akan mengurusnya." Ucap Dio tidak ingin berdebat.
Tuan Mahesa menghembuskan nafas kasar di udara. Ia tahu menikah dengan wanita yang tidak dicintai bukanlah hal yang mudah untuk diterima sama seperti apa yang ia rasakan dulu saat menikah dengan Bu Shanty. Namun Tuan Mahesa yakin jika pernikahan Dio dan Hanum nantinya akan berjalan dengan bahagia seperti apa yang ia rasakan selama ini bersama istrinya.
"Dio sudah menuruti permintaan Mama dan Papa. Maka dari itu Dio juga berharap Mama dan Papa juga menuruti keinginan Dio dengan tidak menyebarluarkan pernikahan Dio ke media sosial dan hanya merayakannya di kota ini saja." Tekan Dio.
__ADS_1
Bu Shanty seketika menatap pada suaminya. Tuan Mahesa pun memberi kode agar menyetujui permintaan Dio dengan anggukan kepalanya. Bu Shanty pun akhirnya mengangguk saja walau sejujurnya ia sangat ingin berita pernikahan anaknya diketahui oleh media.
"Papa pamit pergi bekerja dulu." Ucap Tuan Mahesa.
"Mama akan mengantarkan Papa ke depan." Ucap Bu Shanty lalu bangkit dari duduknya.
Tuan Mahesa mengangguk lalu beranjak dari meja makan. Kini tinggallah Dio dan Digo yang berada di meja makan.
"Kak Dio, walau pun Kak Hanum itu bukanlah gadis lagi tapi dia adalah wanita yang baik. Digo yakin jika Kak Hanum akan memberikan kebahagiaan pada Kakak nanti." Ucap Digo pada Dio.
Digo mengerutkan keningnya. Bukan karena kata pernikahan yang keluar dari mulut Dio, melainkan kata anak kecil. "Kakak bilang aku anak kecil?" Tanya Digo dan Dio hanya diam saja. "Kecil-kecil begini aku juga sudah bisa memberikan cucu yang lucu untuk Mama dan Papa." Kelakar Digo.
__ADS_1
Puk
Sebuah lap tangan melayang tepat di wajah Digo. "Jangan berbicara sembarangan!" Ucap Dio lalu bangkit dari meja makan.
"Kak Dio yang sembarangan mengataiku anak kecil." Balas Digo.
Dio memilih diam saja sambil terus melangkah meninggalkan ruang makan.
"Kak Dio... Kak Dio. Dibandingkan Calista aku lebih setuju jika Kakak bersama Kak Hanum saja. Bersama Kak Hanum aku bukan hanya mendapatkan Kakak ipar saja, tapi juga bonus keponakan yang lucu." Ucap Digo sambil membayangkan wajah lucu Divan.
Dio yang saat ini tengah melangkah menuju kamarnya pun kefikiran untuk mengajak wanita yang akan menjadi istrinya itu untuk bertemu hari ini dan berbicara empat mata dengannya.
__ADS_1
"Ya. Aku harus bertemu dengannya hari ini juga. Jika yang dia harapkan dari pernikahan kami adalah imbalan uang maka aku bisa memberikannya saat ini juga kepadanya tanpa harus menikah. Aku tidak ingin menikah dengan wanita yang hanya ingin kekayaan yang aku dan keluargaku punya." Ucap Dio pelan.
***