Istri Figuran

Istri Figuran
Harusnya aku


__ADS_3

Hanum meneteskan air mata mendengarkan perkataan suaminya. Akhirnya ia pun mengangguk mengiyakannya. Niatnya sore ini ingin membuatkan masakan yang enak untuk anak dan suaminya ia tunda dan memilih untuk melihat keadaan papanya di rumah sakit.


Sebelum berangkat menuju rumah sakit Dio meminta Hanum untuk membersihkan diri lebih dulu begitu pun dengan dirinya sendiri. Setelah selesai membersihkan tubuh dan bersiap-siap, barulah Dio membawa anak dan istrinya menuju rumah sakit tempat Papa Irfan dirawat saat ini.


Selama berada di dalam perjalanan munuju rumah sakit, Hanum tak berhenti berdoa agar Tuhan memberikan kesembuhan papa papanya itu. Di dunia ini hanya Papa Irfan yang ia miliki sebagai orang tua kandungnya. Sudah cukup ia merasakan pedihnya kehilangan seorang ibu jangan lagi untuk kehilangan ayahnya.


Dio yang melihat Hanum merafalkan doa untuk ayahnya pun ikut berdoa agar mertuanya itu baik-baik saja. Di dalam hatinya Dio juga berharap agar Hanum mau memberikan maaf untuk mertuanya itu.


"Ayo." Dio mengajak Hanum dan Divan keluar dari dalam mobil setelah memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit.


Hanum mengiyakannya lalu keluar dari dalam mobil. Sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit, Dio membuka pesan di ponselnya untuk melihat di ruangan manakah mertuanya dirawat saat ini.


"Langsung ke lantai lima saja. Papa di rawat di sana." Ucap Dio setelah membaca pesan.


"Baiklah." Jawab Hanum lalu masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Divan yang melihat kekhawatiran di wajah ibunya sejak tadi pun hanya diam dan ikut berdoa dalam hati untuk kesembuhan kakeknya itu.


Ting


Pintu lift terbuka. Hanum, Dio dan Divan segera keluar dari dalam lift menuju ruangan Papa Irfan dirawat. Setelah sampai di depan ruangan, Hanum memilih tak langsung masuk. Ia berdiri sejenak di depan pintu sambil menatap pada suaminya.


"Ayo." Ajak Dio dan menggenggam lembut tangan Hanum.


Hanum mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan perawatan. Saat sudah berada di dalam ruangan, kedua mata Hanum langsung tertuju pada sosok ayahnya yang saat ini sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan kedua mata tertutup.


Seorang pelayan yang bertugas menjaga Papa Irfan selama dirawat pun bangkit dari duduknya melihat kedatangan Hanum dan Dio.


Pelayan itu nampak menggeleng. "Sudah hampir satu jam setelah diberikan obat, Tuan." Jawabnya.


Dio mengangguk paham. Setelah mendapatkan respon dari Dio, pelayan itu pun berpamitan untuk keluar dari dalam ruangan.

__ADS_1


Seharusnya aku yang berada di sini bukan pelayan. Ucap Hanum dalam hati. Entah mengapa ia merasa bersalah melihat ayahnya ditemani oleh pelayan di saat sakit sedangkan masih ada dirinya yang berstatus sebagai anak kandung dari ayahnya.


"Duduklah di sana." Ucap Dio lembut pada Hanum menunjuk kursi yang berada di samping ranjang.


Hanum mengiyakannya lalu melangkah pelan ke arah kursi agar tak mengganggu Papa Irfan yang sedang tertidur. Sebelum duduk di atas kursi, Hanum menatap sejenak wajah Papanya yang nampak pucat seakan tidak dialiri darah di sana.


"Pah..." lirih Hanum dengan kedua bola mata berkaca-kaca.


Merasakan ada kehadiran seseorang di sekitarnya membuat Papa Irfan pun terjaga dari tidurnya. "Ha-hanum..." Papa Irfan terbata.


Hanum tertegun saat kedua mata yang tertutup itu sudah terbuka. Kedua mata anak dan ayah itu pun saling beradu menyiratkan kesedihan di mata masing-masing.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗


__ADS_2