
Papa Irfan kembali ke ruangan kerjanya dengan perasaan kacau. Pernyataan Dio beberapa saat yang lalu tentang dirinya dan Hanum benar-benar membuat hati terasa sakit. Entah mengapa ia merasakan sakit itu sedangkan sejak awal ialah yang membuang Hanum tanpa mendengarkan penjelasan dari Hanum lebih dulu.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" Seorang wanita yang merupakan bawahannya bertanya karena melihat wajahnya yang nampak pucat.
"Saya tidak apa-apa." Jawab Papa Irfan lalu melangkah meninggalkannya.
"Tidak apa-apa tapi kenapa wajahnya nampak pucat?" Tanya wanita itu. Tak ingin ambil pusing dengan keadaan atasannya, wanita itu pun masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Sementara di dalam ruangan kerja Tuan Mahesa, Dio nampak menyunggingkan senyumannya karena sudah berhasil menyindir mertuanya itu.
"Apa kau sesenang itu melihat wajah tegangnya tadi?" Tanya Tuan Mahesa.
"Ya, aku hanya ingin menyadarkannya jika saat ini Hanum bukan lagi bagian dari keluarganya seperti yang dikatakannya dulu." Jawab Dio.
Tuan Mahesa menganggukkan kepalanya. Untuk kali ini ia merasa setuju dengan perkataan anak sulungnya itu. "Jadi bagaimana penyelidikanmu? Apa sudah berhasil?" Tanya Papa Irfan.
__ADS_1
"Sedikit lagi. Setelah aku mendapatkan semua bukti-bukti aku akan menyerahkannya pada pria itu agar dia semakin menyesal karena telah membuang istriku."
Tuan Mahesa menepuk pundak putranya. "Kerja bagus. Dia harus diberi pelajaran agar tahu rasanya penyesalan." Ucap Tuan Mahesa.
Dio mengiyakannya. "Untuk mempercepat penyelidikan bagaimana kalau Papa ikut menurunkan orang-orang kepercayaan Papa? Aku yakin orang kepercayaan Papa bisa diandalkan untuk mencari bukti yang hilang." Ucap Dio.
"Baiklah, besok mereka akan turun ke lapangan." Jawab Tuan Mahesa.
Dio tersenyum mendengarnya. Jika rencananya berhasil, dalam waktu satu minggu lagi ia akan mengetahui siapa Divan sebenarnya dan paling utama siapa yang sudah meletakkan Divan di depan kos Hanum. Tak lupa Dio juga ingin menunjukkan kebusukan Cita dan Mama Jelita pada Papa Irfan.
Tuan Mahesa yang mendengarkan perkataan putranya dibuat bingung apakah harus tertawa atau bersedih. Putrany itu masih saja bisa bercanda di saat kondisi serius seperti saat ini.
"Jangan terlalu fokus pada istrimu. Ingat juga dengan tugas barumu saat ini." Pesan Tuan Mahesa.
"Aku tahu itu, Pa." Jawab Dio sambil mengacungkan jari jempolnya.
__ADS_1
Di tempat berbeda, orang-orang kepercayaan Dio dan ketiga sahabatnya nampak sudah turun ke lapangan mencari bukti ke setiap tempat yang dekat dengan kos Hanum dulu. Mereka mencari tahu dari beberapa sumber siapa saja yang sudah memasang CCTV sejak lama dan terarah ke kos Hanum lalu meminta rekaman CCTV itu walau memakan waktu cukup lama.
Rumah pemilik kos Hanum pun ikut menjadi sasaran mereka. Ibu pemilik kos itu nampak takut saat melihat kedatangan mereka yang nampak menyeramkan di matanya.
Ia berusaha untuk berbohong agar orang-orang itu tak lagi menuntut rekaman CCTV yang mereka inginkan. Namun bukan orang kepercayaan Dio namanya jika tidak bisa merangkai kata hingga membuat wanita itu jujur kemana hilangnya rekaman CCTV tersebut.
"Jadi anda sudah bekerja sama dengan mereka untuk menghilangkan rekaman itu?" Pria berkepala plontos nampak menatap tajam pada pemilik kos Hanum.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1