
Satu bulan telah berlalu, selama itu pula Hanum dapat melihat perubahan di dalam diri Cita. Wanita sombong dan angkuh itu kini terlihat lebih banyak diam dan tidak lagi terlihat ingin mencari masalah dengannya.
Perubahan sikap Cita itu bukan hanya dirasakan oleh Hanum namun juga yang lainnya hingga membuat mereka merasa bingung ada apa dengan Cita.
Walau satu bulan sudah berlalu dan kata maaf dari putrinya belum juga ia dapatkan, namun Papa Irfan terus berusaha meminta maaf pada putrinya. Setiap ada waktu ia selalu menyempatkan datang ke apartemen putrinya untuk bersilaturahmi dan berujung permintaan maaf.
Dan hari itu, Hanum yang sudah pulang ke apartemen dibuat bingung karena empat hari sudah berlalu namun papanya tak lagi datang ke apartemennya atau sekedar mengirimkan pesan singkat kepadanya.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak?" Gumam Hanum sambil memegang belakang leher.
"Mamah..." Divan yang sedang bermain di ruang tamu tersenyum senang melihat kedatangan mamanya. Ia segera bangkit dari posisinya dan melangkah ke arah Hanum.
"Papah belum pulang, ya?" Tanya Hanum karena tidak melihat keberadaan suaminya.
"Belum. Papa bilang lagi dalam perjalanan pulang, Ma." Jawab Divan.
"Bagaimana Divan bisa tahu?" Tanya Hanum bingung.
"Karena Divan baru saja menelefon Papa." Ucap Divan lalu menunjuk ponsel barunya yang tergeletak di atas karpet.
__ADS_1
"Oh..." Hanum menganggukkan kepalanya. Hampir saja ia melupakan jika putranya itu sudah memiliki ponsel canggih saat ini.
Tak berselang lama sosok yang ditunggu Hanum pun tiba. Suaminya nampak memasuki apartemen dengan senyuman merekah di wajah tampannya.
"Maaf aku pulang terlambat karena tadi membeli kue dulu." Ucap Dio lalu mengangkat plastik berisi kue kesukaan Divan.
"Kau membelikan kue untuk Divan lagi?" Tanya Hanum.
"Ya, karena Divan suka jadi aku membelikannya lagi." Jawab Dio. "Divan, ayo simpan kuenya di dalam kulkas. Nanti Divan bisa memakannya setelah makan, ya." Tutur Dio lembut pada putranya.
Divan menurut lalu mengambil plastik yang Dio berikan kepadanya. Ia pun melangkah ke arah dapur meninggalkan kedua orang tuanya.
Hanum menghela nafas. "Sudah empat hari Papa tidak lagi datang ke sini." Jawab Hanum.
"Lalu? Apa kau mengkhawatirkan papa?" Tanya Dio.
Hanum mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, namun aku merasakan perasaan tidak enak pada Papa. Aku tiba-tiba saja takut jika saat ini Papa tidak baik-baik saja." Jawab Hanum jujur.
Dio ikut menghela nafas. "Ayo duduk dulu." Ajaknya karena posisi mereka saat ini masih berdiri. Hanum mengiyakannya lalu melangkah ke arah sofa.
__ADS_1
"Tadi aku baru mendapatkan kabar jika kemarin Papa masuk rumah sakit." Ucap Dio setelah duduk di atas sofa.
"Apa? Papa masuk ke rumah sakit?" Hanum dibuat terkejut mendengarnya.
"Ya, dari informasi yang aku dapatkan Papamu ditemukan pingsan di dalam kamar oleh pelayan yang ingin mengantarkan makanan ke dalam kamarnya." Jelas Dio.
Kedua mata Hanum membola sempurna. "A-apa?" ucap Hanum terbata. Wajahnya berubah cemas memikirkan keadaan papanya saat ini.
"Apa kau ingin melihat Papa di rumah sakit?" Tawar Dio lembut.
Hanum terdiam beberapa saat untuk berpikir.
"Turunkanlah egomu. Kau tidak akan tahu sampai kapan Tuhan akan memberikan umur pada papamu." Tutur Dio lembut.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗