
"Jika kau dan anakmu ingin istirahat kalian bisa tidur di atas ranjang. Aku akan istirahat di atas sofa." Ucap Dio pada Hanum.
Hanum terdiam sambil menatap wajah Dio. Melihat tatapan Hanum membuat Dio memalingkan wajahnya ke samping. Ia pun melangkah meninggalkan Hanum menuju kamar mandi.
"Mamah, apa Om Dio marah?" Tanya Divan memegang paha Hanum.
Hanum menggelengkan kepalanya. "Tidak, Papa Dio hanya capek saja." Jawab Hanum.
"Papa bukan Oom?" Tanya Divan.
Hanum mengangguk mengiyakannya. "Apa Divan lelah? Kita istirahat saja, ya." Ajak Hanum.
"Tidur di kasur Papa Dio? Apa tak apa?" Tanya Divan takut.
__ADS_1
"Tak apa... ayo." Ajak Hanum. Ia tahu putra ya sudah mengantuk sejak tadi. Wajar saja karena saat ini sudah melewati jam tidur siang Divan seperti biasanya.
Divan pun menurut layaknya anak kecil pada umumnya. Dengan hati-hati Hanum membantu Divan naik ke atas ranjang setelah melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki Divan.
"Tidur yang nyenyak, ya. Nanti kalau sudah sore Mama akan membangunkan Divan." Ucap Hanum.
Divan mengiyakannya lalu memejamkan kedua kelopak matanya. Sebenarnya Divan merasa asing berada di tempat baru seperti saat ini. Namun karena tubuhnya sudah lelah dan matanya sudah mengantuk membuatnya tak menghiraukan rasa tidak nyamannya lagi.
"Sepertinya aku bisa membukanya sendiri." Ucap Hanum setelah membuka kancing atas kebayanya. Pandangan Hanum pun beralih pada kamar mandi dimana Dio masih berada di sana.
"Dia sedang apa di sana kenapa lama sekali." Tanya Hanum. Sambil menunggu Dio keluar Hanum pun memilih menghidupkan ponselnya dan melihat pesan masuk ke dalam ponselnya.
Salah satu pesan masuk dari teman baiknya di perusahaan yang tidak lain adalah Dea membuat Hanum menghela nafas berat. Ya, Hanum membaca pesan dari Dea yang berisi sebuah pertanyaan kenapa Hanum tiba-tiba mengundurkan diri dari pekerjaannya begitu saja. Hanum pun kini merasa bingung harus menjawab apa pada teman baiknya itu.
__ADS_1
"Dea, maafkan aku karena tidak bisa jujur padamu. Mungkin perpisahan kita ini akan terjadi tidak terlalu baik. Tapi percayalah aku akan kembali untuk menjelaskan padamu suatu saat nanti." Gumam Hanum. Karena tak ingin membalas pesan berisi dusta pada Dea, Hanum memilih mengabaikan pesan dari Dea. Walau bersikap tidak baik saat ini tapi itu semua Hanum lakukan agar ia tidak terlalu banyak menyimpan kebohongan pada teman baiknya itu.
Terlalu hanyut dalam pemikirannya sendiri membuat Hanum tidak sadar jika Dio sudah keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya. Dio yang merasa tidak diperhatikan oleh Hanum berlalu begitu saja di depan Hanum tanpa perduli dengan penampilannya saat ini.
Deg
Hanum yang sudah tersadar dari lamunannya dibuat terkejut melihat penampilan Dio saat ini. Terlebih ia dapat melihat dengan jelas beberapa otot Dio yang terlihat menonjol terlebih di bagian perutnya.
Hanum berusaha mengatur nafasnya. Ia merasa tak percaya bagaimana bisa Dio berpenampilan seperti itu di saat ada dirinya di dalam kamarnya.
Jangan bersikap bodoh Hanum. Kau adalah istrinya saat ini.
***
__ADS_1