
"Kita mau kemana? Apa mau langsung membeli perlengkapan bayi?" Tanya Dio pada Hanum.
"Terserah kau saja." Jawab Hanum.
Pandangan Dio pun beralih pada Digo seolan meminta jawaban.
"Langsung ke toko bayi saja, Kak. Setelah itu baru kita makan atau mencari belanjaan lain." Ucap Digo.
Dio menyetujui saran dari adiknya itu. Mereka pun langsung menuju lantai dimana toko pakaian khusus bayi berada.
Cita dan Mama Jelita yang sudah merasa awas dengan nasib mereka selanjutnya pun terus mengikuti Dio dan Hanum dari belakang.
Setibanya di toko perlengkapan bayi, Kedua mata Hanum langsung berbinar melihat banyaknya perlengkapan bayi yang terlihat lucu di matanya.
Digo dan Richard pun langsung berpencar dari mereka karena mereka ingin mengambil perlengkapan bayi sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Dio pun membiarkan kedua saudaranya itu mau melakukan apa.
Mama Jelita dan Cita pun tentu saja mengikuti kemana Digo dan Richard pergi dari belakang.
"Sayang, rasanya aku merasa canggung ada Mama Jelita dan Kak Cita di dekat kita. Aku juga merasa tidak enak pada mereka." Ucap Hanum pada Dio.
__ADS_1
"Tidak perlu memikirkan mereka. Anggap saja mereka tidak ada." Saran Dio.
Hanum menghela nafas. Keadaannya dan Mama Jelita yang sudah berbeda saat ini membuat Hanum tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan suaminya.
Tak ingin istrinya terlalu memikirkan mantan ibu tirinya itu, Dio pun langsung saja mengajak Hanum mencari perlengkapan bayi mereka.
Divan yang merasa turut antusias mencari perlengkapan bayi untuk adiknya pun ikut memilih barang apa saja yang terlihat lucu di matanya.
"Kata dokter adik bayi Divan berjenis kelamin perempuan. Jadi ambil yang bewarna pink saja." Ucap Divan saat sedang sibuk memilih warna baju untuk adiknya.
Dio yang mendengarkan perkataan putranya pun tersenyum begitu pula dengan Hanum.
"Digo, kenapa kau meminta Mama Jelita membawakan barang-barang milikmu?" Tanya Hanum pada Digo saat mereka bertemu.
"Karena itu memang tugas mereka, Kak." Jawab Digo santai.
Dio yang sudah mengetahui niat adik dan sepupunya pun memberikan barang yang sedang dipegangnya ke tangan Mama Jelita dan Cita.
"Dio!" Hanum menatap suaminya itu dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
Dio tak memperdulikan perkataan Hanum justru membawa Hanum pergi dari hadapan Digo.
"Dio, kalian tidak boleh bersikap seperti itu pada Mama Jelita dan Kak Cita!" Ucap Hanum setelah mereka berada jauh dari Digo dan Mama Jelita.
"Memangnya kenapa? Itu kan memang tugas mereka." Jawab Dio santai.
Hanum melebarkan kedua kelopak matanya. "Kalian sungguh keterlaluan, Dio. Walau mereka saat ini bekerja sebagai pembantu Kak Richard tapi kalian tidak boleh bersikap seperti itu pada mereka!" Titah Hanum.
"Sayang..." Dio hendak menenangkan istrinya yang sedang marah itu.
"Jika Tuhan saja mau memaafkan kesalahan umatnya yang teramat besar lalu kenapa kita hanya sebagai hambanya tidak bisa? Seburuk apapun sikap Mama Jelita dan Kak Cita dulu kepadaku, kalian tidak boleh membalas dendam kepadanya karena itu adalah perbuatan tidak terpuji!" Tekan Hanum.
Dio menghela nafas panjang. Jika istrinya itu sudah memberi ultimatum ia sebagai suaminya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakannya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗