
"Kakinya masih sakit?" tanya Dio pada Hanum saat Dio baru saja pulang dari bekerja.
"Sedikit." Jawab Hanum seraya tersenyum sambil mengambil alih tas kerja Dio.
"Kalau kakinya masih sakit jangan dipaksakan berjalan dulu." Tutur Dio.
"Iya. Aku lebih banyak istirahat akhir-akhir ini." Jawab Hanum.
Dio mengusap sayang kepala istrinya itu. "Anak kita mana?" Tanyanya saat tak melihat keberadaan Divan.
"Sedang main bersama Mama di kamarnya." Jawab Hanum.
"Oh..." Dio mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya Dio pun menuntun Hanum menuju sofa dan duduk di sana.
"Anak Papa apakah rewel hari ini, hm?" Tanya Dio pada anaknya yang ada di dalam kandungan Hanum.
"Tidak, Papah. Aku jadi anak yang baik hari ini." Jawab Hanum menirukan suara anak kecil.
Dio tersenyum mendengarnya. "Papa sudah tidak sabar menunggumu lahir." Ucap Dio.
Hanum mengusap kepala suaminya yang kini berada di dekat perutnya. "Aku juga sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir." Jawab Hanum.
Dio mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik Hanum. "Jika anak kita sudah lahir nanti dia pasti cantik seperti dirimu." Ucap Dio dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
"Kau ini bisa saja." Jawab Hanum.
Sepasang suami istri itu pun saling tersenyum satu sama lain.
"Ehm." Deheman seseorang dari arah pintu masuk mengalihkan pandangan mereka berdua ke sumber suara.
"Papah?" Ucap mereka nyaris bersamaan.
Papa Irfan yang sejak tadi berdiri di dekat pintu pun melangkah masuk ke dalam rumah. "Maaf kalau Papa mengganggu kemesraan kalian sore ini." Goda Papa Irfan.
"Papa bisa saja. Apa Papa baru saja sampai?" Tanya Hanum.
Papa Irfan mengiyakannya. "Tak lama setelah Dio sampai." Jawab Papa Irfan.
Papa Irfan mengiyakannya dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Hanum dan Dio.
"Divan mana? Kenapa dia tidak terlihat?" Tanya Papa Irfan.
"Ada di kamarnya, Pah. Sedang bermain bersama Mama." Jawab Hanum.
"Oh..." Papa Irfan mengangguk paham. "Bagaimana keadaanmu saat ini Hanum? Apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya Papa Irfan.
Hanum menggelengkan kepalanya. "Hanum belum merasakan tanda apa-apa, Pa. Sepertinya belum dalam waktu dekat bayinya lahir." Jawab Hanum menduga-duga.
__ADS_1
"Mungkin saja. Yang terpenting saat ini kau harus mengutamakan kesehatanmu dan kandunganmu." Pesan Papa Irfan.
"Iya, Pah." Jawab Hanum.
Melihat semua keluarganya yang sudah tidak sabar menanti kelahiran buah hatinya membuat Hanum merasa senang dan ikut merasa tidak sabar melahirkan buah hatinya ke dunia.
Dua hari kemudian, Hanum yang sebelumnya tidak merasakan pertanda apa-apa pun mulai merasakan kontraksi kecil di dalam perutnya. Tidak ingin merasa panik dengan kontraksi yang dialaminya karena akan membuat semua orang ikut panik, Hanum pun mencoba menyembunyikan rasa kontraksinya dan menghubungi dokter kandungannya untuk mencari solusi.
Setelah mengetahui jika saat ini ia baru merasakan kontraksi tahap awal, Hanum pun mencoba tenang dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Dio melihat Hanum yang nampak meringis saat ia masuk ke dalam kamarnya malam itu.
"Emh, ya. Aku tidak apa-apa." Jawab Hanum tenang.
"Apa kau yakin?" Dio rasanya tidak percaya begitu saja.
"Ya, aku baik-baik saja. A-aku..." Hanum tak melanjutkan perkataanya karena perutnya kembali merasakan kontraksi yang lebih kuat dari sebelumnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗