
Ternyata apa yang ditakutkan Hanum tidak terjadi karena setelah ia mengatakan jika dirinya akan kembali bekerja Divan tidak menunjukkan tanda penolakan selain mengangguk menyetujui keputusan Hanum. Divan pun berucap jika ia mau menerima pengasuh barunya nanti.
Tentu saja mendapatkan jawaban seperti itu dari putranya membuat Hanum merasa senang dan haru. Hanum sungguh tidak menyangka jika putra kecilnya itu kini sudah semakin bersikap layaknya orang dewasa pada umumnya. Ia tidak melihat sisi anak-anak pada diri Divan seperti yang ia lihat pada anak seusia Divan.
"Divan, terima kasih karena telah mengerti keadaan Mama saat ini. Semua ini Mama lakukan untuk Divan. Mama membutuhkan sebuah pekerjaan untuk menghidupi Divan." Ucap Hanum dengan mata berkaca-kaca sambil menatap putra kecilnya yang sudah terlelap malam itu. Sungguh di dalam hatinya saat ini Hanum merasa sedih karena harus banyak kehilangan waktu bersama Divan. Di saat anak seusia Divan sedang asik menikmati hidup dengan bermain ditemani kedua orang tuanya Divan justru sebaliknya. Putra kecilnya itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan pengasuhnya.
"Mama berjanji jika Mama sudah banyak uang Mama akan melimpahkan waktu Mama untuk Divan." Ucap Hanum. Tanpa sadar satu tetes air mata kini jatuh membasahi sebelah pipinya. Hati Hanum kini benar-benar merasa sedih melihat putranya yang kekurangan kasih sayang sejak kecil.
Walau Divan bukanlah anak kandungnya tapi Hanum sudah menganggap Divan sebagai anak kandungnya dan berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan Divan di hidupnya. Hanum tak lagi memperdulikan dari mana asal-usul Divan . Yang terpenting saat ini yang ia tahu jika Divan adalah anaknya. Anak kandungnya.
__ADS_1
Hanum pun menutup mulutnya saat isakan kecil mulai keluar dari bibir mungilnya. Tak ingin membuat Divan yang baru saja tertidur terbangun dari tidurnya karena suara tangisannya, Hanum memilih beranjak meninggalkan Divan dan melangkah menuju kamarnya.
Setelah berada di dalam kamarnya, Hanum menumpahkan segala kesedihannya dengan menangis di dalam kamar mandi sambil menyalakan air kran. Di dalam tangisnya Hanum hanya berharap jika kebahagiaan segera datang menghiasi hidupnya dan Divan.
Setelah cukup puas menangis di dalam kamar mandi, Hanum pun keluar dengan wajah yang nampak sembab. Dilihatnya jam menggantung di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan suaminya belum juga pulang sampai saat ini. Sudah dapat Hanum simpulkan jika Dio tidak akan pulang ke apartemennya malam ini.
Sementara di tempat berbeda, Marvel nampak memukul keras pundak Dio karena merasa kesal Dio belum juga kembali ke apartemennya. "Pergilah. Istrimu pasti sudah menunggumu pulang!" Titah Marvel.
"Jika kau ingin pulang maka pulanglah lebih dulu. Aku akan menginap di sini malam ini." Jawab Dio tenang sambil menghisap sebatang roko di bibirnya.
__ADS_1
"Ck. Kau menjadikan apartemenku tempat persinggahan?" Ketus Marvel.
Dio memilih diam saja sambil menikmati isapan rokoknya.
Karena sudah merasa kehabisan akal menasehati sahabatnya dan menyuruhnya untuk pulang, Marvel pun memilih meninggalkan Dio di balkon apartemennya.
"Lebih baik aku segera pulang karena Windi sudah menungguku di rumah." Ucap Marvel.
***
__ADS_1