Istri Figuran

Istri Figuran
Tidak akan memakanmu


__ADS_3

Sesuai kesepakatan Hanum dan Dio sebelum berangkat ke apartemen Hanum, malam ini Dio dan Hanum akan menginap di apartemen Hanum sebelum besok mereka berangkat menuju ibu kota. Jika kemarin malam Dio mau tidur bersama Hanum dan Divan di dalam kamar, malam ini terlihat berbeda. Dio memilih tidur di sofa kecil yang ada di ruang tamu dibandingkan harus tidur di kamar yang sama dengan Hanum.


Bukan tanpa alasan Dio bersikap demikian, karena di kamar Hanum tidak ada sofa dan hanya ranjanglah yang menjadi tempat ia untuk tidur. Dio juga tidak mungkin tidur bersama dengan Hanum yang belum sepenuhnya ia terima sebagai istrinya. Hanum pun tidak mempermasalahkannya. Dimana pun suaminya itu mau tidur asal tetap di apartemennya.


Sebenarnya Dio merasa tidak nyaman tidur di sofa karena sofa ruang tamu Hanum tidaklah empuk seperti sofa yang ada di dalam kamarnya. Namun karena itu adalah pilihannya membuat Dio mau tidak mau menikmati tidur di atas sofa yang cukup keras dan sempit.


Jadilah keesokan harinya Dio terbangun dengan tubuh yang pegal-pegal dan mata sembab karena semalaman ia kesulitan tertidur. Hanum yang melihat mata sembab suaminya hanya acuh saja sambil menghidangkan sarapan di atas meja.


"Maaf hanya bisa menghidangkan nasi goreng untuk sarapan pagi ini." Ucap Hanum.


Dio hanya diam saja menatap nasi goreng yang ada di depannya. Pandangannya lalu tertuju pada Divan yang terlihat tengah menatapnya. Ditatap balik oleh Dio membuat Divan langsung tertunduk. Dio menghela nafas singkat. Terlihat sekali anak laki-laki Hanum itu masih menyimpan rasa takut padanya.

__ADS_1


Hanum dan Dio tak membuang waktu lama untuk menikmati sarapan pagi mereka karena sesuai rencana mereka akan berangkat ke ibu kota dalam waktu satu jam lagi. Sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya seperti biasa Hanum menyuapkan Divan lebih dulu lalu meminta Divan melanjutkan memakan makanannya seorang diri.


Lima belas menit berlalu, Hanum telah selesai menghabiskan sarapan paginya begitu pun dengan Dio. Sedangkan Divan masih diam menghabiskan sarapan paginya.


"Divan, Mama mau cuci piring dulu. Divan habiskan makanannya, ya." Ucap Hanum.


"Baik, Mah." Jawab Divan menurut.


"Sudahlah, tidak perlu memikirkannya." Lirih Hanum. Beranjak menuju westafel untuk mencuci bekas piring makanan mereka.


Beberapa saat berlalu, Divan telah selesai menghabiskan makanannya dan Hanum juga telah selesai mencuci bekas piring Divan.

__ADS_1


"Mamah, apa kita langsung berangkat?" Tanya Divan.


Hanum menganggukkan kepalanya. "Divan tunggu di ruang tamu, ya. Mama ingin mengambil tas dulu di dalam kamar." Ucap Hanum.


Divan mengangguk mengiyakannya lalu melangkah ke ruang tamu. Dilihatnya Dio tengah fokus memainkan ponselnya tanpa menyadari kehadirannya. Divan memilih diam saja. Menaiki sofa lalu duduk dengan diam di sana.


Dio yang sudah tersadar dengan kehadiran Divan langsung menatap pada Divan. Dilihatnya Divan kembali tertunduk karena ditatap olehnya.


"Jangan menunduk begitu. Papa tidak akan memakanmu." Ucap Dio datar.


Mendengar kata Papa membuat Divan mengangkat kepalanya. Papa Dio bilang apa tadi padanya? Papa?

__ADS_1


***


__ADS_2