
Dio hanya diam saja mendengarkan gerutuan sahabatnya hingga akhirnya pergi meninggalkan dirinya seorang diri di apartemen. Entah sudah berapa batang rokok yang dihisap oleh Dio selama duduk di balkon apartemen. Yang jelas saat ini asbak rokok yang tadinya kosong sudah hampir terisi penuh oleh puntung rokok miliknya.
Sapuan udara malam yang terasa dingin dan mulai menembus ke dalam pori-pori kulitnya tak membuat Dio beranjak dari posisinya. Dio seperti tak merasakan kedinginan sedikit pun. Ia masih tenang dan nyaman dengan posisinya saat ini sambil menghisap rokok yang masih banyak tersisa.
Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul satu malam dan angin malam semakin terasa kencang menyapu wajah tampannya, barulah Dio bangkit dari duduknya. Meninggalkan asbak dan puntung rokoknya di sana tanpa berniat membersihkannya. Lagi pula besok pagi ia akan meminta orang untuk membersihkan kekacauan yang sudah ia buat bukan?
*
Dua hari berlalu, Dio masih tak menunjukkan niatnya untuk tidur di apartemen milikinya. Ia membiarkan Hanum dan Divan tinggal di apartemennya tanpa ada pemimpin keluarga di sana. Begitu banyak saran yang masuk ke telinganya dari sahabatnya tak membuat seorang Dio tergugah untuk tidur di apartemen miliknya. Menurutnya tidur berpindah-pindah lebih baik dari pada harus tidur di tempat yang sama bersama seorang wanita yang tidak dicintainya.
__ADS_1
Maaf, untuk saat ini hati Dio benar-benar sangat keras. Menikah dengan Hanum bukanlah hal yang diinginkannya. Dan saat ini jangan menuntutnya harus menjadi suami pada umumnya yang tinggal di atap yang sama dengan istrinya. Jika orang lain bertanya apakah Dio egois? Dio pun membenarkannya. Ia hanya egois demi kebahagiaannya sendiri. Lagi pula orang lain tidak tahu bukan bagaimana jika menjadi dirinya? Dipaksa menerima keadaan yang sebenarnya ia tak ingin. Dipaksa bersama dengan seseorang yang juga tak diinginkannya.
Apa yang dirasakan Dio saat ini tentu saja dapat dimaklumi oleh Hanum. Wanita itu selalu berusaha mengabaikan sikap suaminya. Rumah tangga yang dulunya sebelum ada Divan ia impikan sangat indah ternyata justru sebaliknya. Hanum tidak berkecil hati dengan kondisinya saat ini. Semenjak Divan ada bukankah ia sudah menguatkan tekadnya jika tidak masalah jika tidak ada satu pun pria yang mau menikah dengannya karena status sosialnya. Dan sekarang apa yang ia tekadkan benar-benar Hanum terima dengan lapang dada. Ia harus menerima hanya berstatus sebagai istri figuran untuk suaminya.
"Mamah." Suara lembut Divan membuat Hanum menoleh ke sumber suara dimana kini Divan sudah nampak rapi dengan pakaian sekolahnya.
Divan mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam kamar Hanum. "Mamah sudah siap berangkat bekerja?" Tanya Divan.
Hanum menganggukkan kepalanya. "Ini Mama baru saja siap. Ayo kita pergi." Ajak Hanum.
__ADS_1
"Mama pergi bekerja naik apa?" Tanya Divan.
Hanum terdiam beberapa saat. "Mama akan pergi naik bus." Jawab Hanum.
"Naik bus? Kenapa tidak bareng sama Divan dan Arthur saja?" Tanya Divan. Hari ini ia memang sudah membuat janji dengan Arthur akan berangkat sekolah bersama menggunakan mobil keluarga Arthur.
"Tidak perlu, Nak. Mama bisa naik bus saja. Lagi pula jalan menuju perusahaan Mama bekerja tidak sejalan dengan sekolah Divan." Ucap Hanum lembut pada Divan.
***
__ADS_1