
"Aku memang tidak pernah melakukannya sebelumnya tapi tadi malam aku tiba-tiba saja memimpikan Divan hingga akhirnya melakukannya." Jawab Dio pada akhirnya.
Hanum tentu saja tak langsung percaya. Namun ia memilih diam tak melanjutkan percakapan mereka karena tak ingin menambah kebohongan dari dalam diri Dio.
Mobil milik Dio terus melaju membelah jalanan ibu kota yang cukup macet pagi itu. Kemacetan yang sudah biasa kembali Hanum rasakan akhir-akhir ini.
Selama berada di perjalanan kini baik Dio maupun Hanum saling diam dengan pemikiran mereka masing-masing.
Sudahlah, tidak perlu memikirkannya. Lagi pula apa untungnya jika dia percaya dan apa untungnya jika tidak? Tanya Dio dalam hati karena sejak tadi ia merasa gelisah karena takut Hanum mengetahui kebohongannya.
Setibanya di depan gedung perusahaan Alexander, seperti biasa Hanum langsung segera turun dari dalam mobil dan melangkah terburu-buru memasuki gerbang perusahaan.
"Dia sudah seperti orang yang dikejar setan saja." Ucap Dio menatap pergerakan Hanum.
Tak ingin ambil pusing dengan apa yang Hanum lakukan, Dio segera melajukan mobilnya menuju cafenya yang berada tidak terlalu jauh dari perusahaan Alexander.
"Hai, Hanum." Suara sapaan dari seorang wanita yang sangat tidak asing di pendengarannya membuat langkah kaki Hanum terhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Hai, Sally." Sapa Hanum kembali seraya tersenyum.
"Kau terlihat terburu-buru sekali hingga melewatiku begitu saja." Ucap Sally dengan sedikit menyindir.
__ADS_1
"Agh benarkah?" Tanya Hanum sungkan.
Sally menganggukkan kepalanya. "Kau melewatiku saat di depan tadi." Jawab Sally.
"Maafkan aku, aku tidak melihatmu." Ucap Hanum.
"Tak masalah. Tapi ada apa kenapa kau terlihat terburu-buru sekali? Kau terlihat sedang mengejar sesuatu." Tanya Sally.
"Tidak. Aku hanya ingin cepat sampai ke dalam gedung saja." Jawab Hanum berdusta.
Sally memilih mengangguk saja dan membawa Hanum mengantri di depan lift bersama para karyawan yang lainnya.
"Bagaimana apanya?" Tanya Hanum bingung.
"Maksudku bagaimana dengan Divan, apakah dia mau ikut bersama kita di akhir pekan atau bagaimana?" Jelas Sally.
"Oh..." Hanum mengangguk-anggukkan kepalanya. "Anakku mau ikut bersama kita. Dia bahkan sangat antusias untuk ikut." Jawab Hanum.
"Benarkah?" Tanya Sally senang dan diangguki Hanum sebagai jawaban. "Syukurlah kalau begitu. Akhirnya liburan kita akan terasa lebih menyenangkan di akhir pekan." Ucap Sally riang dan dibalas Hanum dengan senyuman di wajah cantiknya.
"Ck. Meribut sekali!" Ketus seorang wanita yang baru saja bergabung untuk mengantri masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Sally memutar kedua bola matanya. "Jika kau merasa terganggu kau bisa menulikan kedua telingamu." Ketus Sally.
"Untuk apa aku menulikan kedua telingaku? Kenapa tidak mulut kau saja yang berhenti berbicara?" Tanya wanita yang tak lain adalah Cita dengan ketus.
"Karena mulutku masih sangat bisa dipergunakan dengan baik dibandingkan telingamu itu." Jawab Sally tak kalah ketus.
"Kau...!!" Cita menggeram. Merasa kesal namun terpaksa ia tahan saat melihat kedatangan Daniel masuk ke dalam perusahaan.
Sally dan Hanum pun sontak menatap pada Daniel yang baru saja masuk ke dalam perusahaan bersama asistennya.
"Hai, Hanum." Sapa Daniel saat melewati Hanum. Ia sepertinya lupa sedang berada dimana saat ini hingga menyapa Hanum dengan santai.
"Hai, Tuan Daniel." Hanum tersenyum kaku karena kini tatapan semua orang termasuk Cita menatap aneh padanya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1