
"Divan, kenapa kau ke sini?" Tanya Hanum sambil mengusap rambut putranya. Hanum pun memberikan kode pada pelayan agar mengambil alih tugasnya dan membawa Divan ke arah meja.
"Divan takut tidak ada Mama." Jawab Divan pelan agar Dio tak mendengarnya.
Hanum pun sontak menatap pada Dio. Ia hampir saja melupakan dimana keberadaan mereka saat ini. "Lalu Papa Dio membawa Divan ke sini?" Tanya Hanum.
Divan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mendengar jawaban Divan membuat Bu Shanty sontak menatap pada putranya yang sudah berbaik hati membawa Divan menemui Hanum di dapur.
"Divan, tidak perlu takut pada Papa Dio, mulai sekarang Papa Dio adalah Papa Divan. Dia tidak mungkin jahat pada Divan." Tutur Bu Shanty lembut.
Dio yang mendengarkan perkataan Bu Shantu hanya diam dengan memasang wajah datarnya.
"Emh, Mamah, kalau begitu Hanum pamit ke atas dulu untuk memandikan Divan." Ucap Hanum tak ingin melanjutkan pembicaraan di antara mereka.
Bu Shanty mengangguk mengiyakannya. Sebelum membiarkan Hanum pergi dari dapur, Bu Shanty menyempatkan lebih dulu untuk mengusap kepala Divan.
__ADS_1
Dio yang mendengarkan jika Hanum ingin membawa Divan kembali ke kamarnya pun memilih membiarkan Hanum pergi lebih dulu dan masuk ke dalam dapur untuk mengambil minum.
"Dio, Mama tau kau adalah pria baik." Ucap Bu Shanty pada Dio.
"Sejak lahir Dio sudah diciptakan untuk menjadi pria baik, Ma." Jawab Dio.
Bu Shanty tersenyum mendengarnya. "Oh ya, Dio. Mama harap kau bisa merubah pembawaanmu pada Divan. Bawakanlah dirimu seperti saat kau sedang bersama anak-anak sahabatmu." Ucap Bu Shanty.
Dio terdiam beberapa saat.
"Tapi Dio bukan papanya, Ma." Tekan Dio.
"Dio, saat ini kau sudah menikahi ibunya berarti kau adalah ayahnya saat ini. Jangan berkeras hati seperti itu, Dio. Kasihani Divan. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah." Ucap Bu Shanty.
Tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah? Lanjut Dio dalam hati merasa bingung.
__ADS_1
Dan juga kasih sayang dari ibu kandungnya. Bu Shanty turut berucap dalam hati.
Tak ingin terlalu banyak terlibat pembicaraan dengan Bu Shanty di dapur terlebih ada pelayan yang mendengarkan pembicaraan mereka, Dio memilih beranjak dari dapur menuju kamarnya. Sementara Bu Shanty yang ditinggal begitu saja oleh Dio hanya bisa berharap agar Dio mau segera membuka hatinya untuk Hanum dan Divan.
*
Setelah menikmati sarapan bersama pagi itu, Dio langsung saja membawa Hanum dan Divan menuju apartemen Hanum untuk mengambil barang-barang Hanum yang ada di apartemen dan akan dibawa ke ibu kota.
Selama dalam perjalanan menuju apartemen baik Hanum maupun Dio memilih diam satu sama lain menikmati perjalanan mereka pagi itu.
Di tengah perjalanan, suara deringan ponsel Dio membuat perhatian Hanum tertuju ke sumber suara. Hanum memperhatikan Dio melihat ponselnya dengan tersenyum merekah seolah panggilan telefon di ponselnya adalah suatu hal yang ditunggunya sejak tadi.
"Hallo, Sayang." Ucap Dio saat panggilan sudah terhubung. Dio bahkan melupakan begitu saja ada sosok istrinya di sebelahnya.
Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Dio membuat Hanum terdiam dan mengalihkan kembali pandangannya ke luar kaca jendela karena ia sudah bisa menebak siapakah gerangan yang menelefon Dio saat ini.
__ADS_1
***