
"Tidak begitu." Jawab Zeline dengan wajah memerah karena malu.
Dio menggeleng-gelangkan kepalanya. "Daniel, lihatlah putri kecilmu ini. Masih kecil tapi sudah centil seperti ini." Kelakar Dio.
Daniel tersenyum saja seraya mengusap kepala putrinya.
"Pah... Om Dio ejek Zel itu." Adu Zeline.
"Sudah, biarkan saja." Jawab Daniel.
"Tapi jadi kan Pah ke tempat Tante Hanum. Kan tadi Papah bilang tidak bekerja siang ini." Pinta Zeline.
Daniel menoleh pada Dio meminta jawaban. "Baiklah, kita pergi ke tempat istriku sekarang juga. Kebetulan siang ini aku juga tidak ada pekerjaan di kantor." Jawab Dio.
Daniel tersenyum mendengarnya pun dengan Zeline.
Akhirnya ketiga orang itu pun beranjak dari cafe pusat milik Dio menuju cafe cabang yang berada di dekat yayasan milik keluarga Calista.
Melihat suaminya datang bersama Daniel dan putrinya tentu saja membuat Hanum merasa terkejut karena sebelumnya Dio tidak mengabarinya jika akan datang bersama Daniel dan Zeline.
"Tante Hanum." Zeline yang sudah berada dekat dengan Hanum mengulurkan tangan untuk menyalimi Hanum.
__ADS_1
Hanum menerima ulurang tangan mungil tersebut dan mengusap kepala Zeline. "Sudah lama tidak bertemu kau terlihat semakin cantik saja, Nak." Puji Hanum.
"Hehe, Zel memang cantik sejak dalam kandungan Mamah, Tante." Jawabnya penuh percaya diri.
Hanum tertawa kecil mendengarnya. Setiap bertemu dengan Zeline ia selalu saja dibuat gemas melihatnya.
"Aku datang tidak mengabarimu karena Zel tiba-tiba saja meminta untuk pergi ke sini. Dia bilang sih ingin bertemu denganmu." Ucap Dio penuh maksud.
"Benarkah begitu Sayang? Kau ingin bertemu dengan Tante?" Tanya Hanum.
Zeline mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dengan Divan juga." Tambahnya lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena sudah salah bicara.
"Nah kan, ketahuan juga niat aslinya." Kelakar Dio.
"Sudahlah, jangan menggodanya terus. Lagi pula tidak masalah bukan jika Zel ingin bertemu dengan Divan." Ucap Hanum.
"Tidak masalah." Jawab Dio dan Daniel bersamaan.
Tidak ingin terlalu lama bicara sambil berdiri, Hanum pun mengajak Daniel, Dio dan Zeline untuk duduk di kursi cafe.
"Divannya mana Tante? Kenapa tidak terlihat?" Tanya Zeline yang sejak tadi sudah mengharapkan melihat wajah Divan namun tidak bertemu juga.
__ADS_1
"Divannya masih dalam perjalanan ke sini. Tadi Divan pergi bersama sopirnya menjemput Arthur di rumah Om Marvel." Jawab Hanum.
"Apa? Jadi Arthur juga akan bermain di sini Tante?" Tanya Zeline merasa sangat senang.
"Ya... apa kau senang?" Tanya Hanum.
"Tentu saja Zel sangat senang Tante. Zel akan bertemu dua teman ganteng." Jawabnya sambil memegang kedua pipi bulatnya dengan tangan.
"Daniel... keturunanmu memang tidak bisa diragukan lagi." Ucap Dio sambil menggelengkan kepalanya. Jika melihat sikap Zeline saat ini membuat Dio teringat dengan sikap Daniel saat sekolah dulu yang sangat suka tebar pesona pada setiap wanita dan selalu percaya diri jika dirinya adalah pria paling tampan di antara banyak pria lainnya.
"Tentu saja. Dia putriku. Putri kesayanganku." Jawab Daniel bangga.
Hanum dibuat tertawa mendengarnya.
"Tapi untung saja kebaikan dan ketulusan Naina menurun kepadanya. Jika sikapnya sepenuhnya keturunan darimu aku tidak bisa menebak bagaimana Zeline besar nantinya." Ucap Dio lalu membayangkan bagaimana besarnya Zeline nanti jika ia menuruni sikap Daniel yang suka berganti-ganti kekasih.
***
Yeay, flash back sama Zel dulu ya.
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗