
Melihat istrinya yang sudah sangat rapuh membuat Dio mendekati istrinya untuk menenangkannya. Sedangkan Papa Irfan tak berani mendekat karena ia tahu Hanum tidak menginginkannya.
"Papa tahu Papa adalah ayah yang sangat berdosa dan tidak bertanggung jawab kepadamu, Hanum. Papa tahu kesalahan Papa sangat sulit untuk termaafkan." Ucap Papa Irfan. Begitu banyak kesalahan yang sudah ia lakukan selama ini termasuk tidak mahu menjadi wali pada saat putrinya itu mau menikah. Ia bahkan dengan lantang mengatakan agar keluarga Dio mencari wali saja untuk menikahkan Hanum dan memberikan surat kuasa untuk itu.
Melihat kondisi putrinya yang benar-benar rapuh dan sulit untuk memberikan maaf untuknya, akhirnya Papa Irfan pun berinisiatif untuk berpamitan pergi dari apartemen Dio. Walau pun begitu, Papa Irfan berjanji pada Hanum untuk kembali dan meminta maaf pada anaknya itu.
"Menangislah, ada aku di sini." Ucap Dio pada istrinya yang nampak menahan tangis setelah kepergian ayahnya.
Hanum benar-benar memanfaatkan tubuh suaminya untuk menyalurkan rasa sedih di hatinya saat ini. Selama ini ia sudah sangat berusaha menjadi wanita yang kuat namun ternyata ia masih cukup lemah jika sudah berhadapan dengan ayah kandungnya.
"Kenapa kau nampak tidak terkejut melihat kedatangan Papa ke sini?" Tanya Hanum setelah suasana hatinya mulai tenang.
"Karena aku sudah bisa menebak jika Papa akan datang ke sini." Jawab Dio seadanya.
"Maksudmu?" Hanum nampak bingung.
Dio hanya tersenyum tanpa menjawab kebingungan di wajah istrinya saat ini.
__ADS_1
"Bersihkan tubuhmu dulu, ya. Kita bisa melanjutkan bercerita nanti malam." Ucap Dio.
Hanum mengiyakannya. Dio pun mengantarkan Hanum masuk ke dalam kamarnya setelahnya memasuki kamar Divan untuk melihat putranya.
"Papah, tadi siapa yang datang?" Tanya Divan.
"Kakek Divan." Jawab Dio seadanya. Pria itu ingin Divan mengenal mertuanya sebagai bagian dari keluarganya.
"Kakek Divan?" Ulang Divan dengan wajah bingung.
"Jadi Kakek baru bisa mendatangi Divan dan Mama karena sibuk bekerja, Pah?" Tanya Divan.
"Iya, jadi kalau bertemu dengan Kakek, Divan memanggilnya kakek Divan, ya." Pesan Dio.
"Baik, Pah." Jawab Divan menurut dan tersenyum senang karena mengetahui keluarganya semakin banyak dan pasti akan semakin banyak yang menyayanginya dan mamanya.
Saat malam hari telah tiba dan Divan sudah tertidur di kamarnya, Hanum pun langsung mempertanyakan maksud perkataan suaminya itu tadi sore.
__ADS_1
"Apa? Jadi kau dan teman-temanmu yang mengirimkan bukti-bukti itu ke rumah Papa? Dan kesibukanmu akhir-akhir ini karena kau sibuk mengumpulkan banyak bukti untuk membersihkan namaku?" Tanya Hanum.
Dio mengangguk mengiyakannya. Melihat respon dari suaminya tentu saja membuat Hanum merasa terharu hingga meneteskan air mata. Ia tidak menyangka jika Dio ingin memberikan yang terbaik untuknya tanpa diminta oleh dirinya.
"Maafkan aku jika sudah lancang berbuat tanpa meminta persetujuan darimu." Ucap Dio.
"Tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti maksud kebaikanmu. Harusnya aku yang berterima kasih karena kau sudah membuktikan pada Papa jika aku tidak bersalah." Jawab Hanum.
Dio membawa Hanum ke dalam pelukannya. "Walau merasa berat tapi aku harap kau bisa memaafkan Papamu, ya. Bagaimana pun juga dia adalah orang tuamu dan sudah kewajibanmu untuk menghormatinya." Pesan Dio.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1