
Hanum nampak terdiam memikirkan kenapa Dio mendaftarkan putranya sekolah baru di ibu kota tanpa sepengetahuan dirinya.
Harusnya dia memberitahukan hal ini kepadaku lebih dulu. Ucap Hanum hanya dalam hati.
"Hanum, kenapa mau diam saja?" Tanya Naina yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Hanum.
"Agh, aku tidak apa-apa." Jawab Hanum seraya tersenyum.
Naina menganggukkan kepalanya tanpa berniat bertanya apakah Hanum sudah mengetahui tentang rencana Dio atau belum karena menurutnya Hanum pasti sudah mengetahuinya.
Pembicaraan keempat wanita itu pun terhenti saat Bu Shanty memanggil Hanum dan Divan untuk bergabung bersama keluarga mereka karena Bu Shanty ingin melakukan foto bersama keluarga besar mereka.
*
Tanpa terasa acara pernikahan Hanum dan Dio hari itu pun berakhir. Sanak saudara dan orang-orang terdekat Dio dan Hanum sudah berpamitan pulang ke kediaman mereka masing-masing dan kini hanya meninggalkan Tuan Mahesa bersama keluarganya.
"Hanum, karena saat ini kau sudah sah menjadi istri Dio maka saat ini kau sudah bisa menempati kamar yang sama dengan Dio." Ucap Bu Shanty seraya tersenyum.
Hanum tak langsung menjawabnya karena kini tatapan matanya jatuh pada Divan yang terlihat menundukkan pandangannya ke bawah.
__ADS_1
"Mama, bagaimana untuk malam ini Hanum diizinkan tidur bersama Divan dulu karena Divan masih merasa asing berada di tempat yang baru." Pinta Hanum.
Bu Shanty turut menatap pada Divan yang sedang tertunduk. Walau Hanum sudah biasa mengajarkan Divan untuk tidur sendiri namun tetap saja Divan adalah anak kecil pada umumnya yang takut kehilangan ibunya atau berjauhan dari ibunya.
"Kalau untuk itu Mama serahkan pada Dio saja." Jawab Bu Shanty lembut.
Dio seketika menatap pada Mamanya. "Biarkan saja mereka tidur bersama malam ini." Jawab Dio.
Senyuman tipis nampak terbit di wajah tampan Dio setelah mengatakannya karena malam ini ia bisa terbebas dari Hanum dan masih bisa menikmati masa-masa seperti masa lajangnya dengan tidur seorang diri.
"Papa punya usul." Tuan Mahesa angkat suara. "Bagaimana untuk nanti malam Hanum dan Divan tidur bersama dengan Dio di dalam kamarnya. Mereka ini kan sudah menikah, tidak baik jika masih ada jarak di antara mereka." Ucap Tuan Mahesa.
"Digo juga setuju." Timpal Digo tersenyum menyeringai.
"Ck. Kau sungguh tidak diajak!" Gerutu Dio pada adiknya.
Digo tertawa-tawa.
Nenek Eno yang melihatnya pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana Hanum, apa kau setuju?" Tanya Tuan Mahesa pada Hanum.
"Saya setuju, Pa." Jawab Hanum. Lagi pula ia tidak mungkin tidak menuruti perkataan dari mertuanya itu.
"Divan, tidak masalah bukan jika nanti malam tidur bersama Papa Dio juga?" Ucap Bu Shanty lembut pada Divan.
Divan menganggukkan kepalanya. "Tidak masalah, Nenek." Jawabnya lembut.
Bu Shanty tersenyum lega mendengarnya. Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya Bu Shanty pun meminta Dio untuk membawa Hanum dan Divan menuju kamarnya untuk beristirahat. Tentu saja Dio mengiyakannya tanpa ada bantahan.
Hanum dan Divan pun mengikuti langkah Dio menuju kamar Dio berada.
"Mamah, Divan takut." Ucap Divan sebelum masuk ke dalam kamar Dio.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ayo masuk." Ajak Hanum.
Divan akhirnya mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam kamar Dio.
Semoga semuanya baik-baik saja. Ucap Hanum dalam hati sambil melangkah.
__ADS_1